Namõ Sifelendrua, Si Cantik yang Tersembunyi di Nias


Speechless. Itulah salah satu kata yang mewakili ekspresi wajah saya waktu itu. Hari ke-14 dalam perjalanan saya menjelajah Nusantara.

Suatu hari, sebelum saya menulis tentang ini, saya bertanya pada dukun dunia maya paling ajib dengan mengetik keyword Sungai Namo dan hanya sedikit link yang Mbah Google berikan pada saya mengenai sungai itu. Saat saya di sana, saya kurang mencari informasi yang lebih lengkap mengenai Namo. Karena memang mendadak saya berkunjung ke sana dan setelahnya tak lama saya harus kembali menyebrang Sibolga dari Nias (Teluk Dalam) sehingga saya tak sempat banyak bertanya pada warga Desa Bawõ Mataluo tentang Sungai Namõ.

Ah, andaikan saya bisa lebih lama sedikit lagi saja, bisa saya informasikan lebih detail buat kalian semua. Yah, sudahlah. Mungkin ini pertanda bahwa saya akan ke sini lagi untuk waktu yang lebih lama atau saatnya giliran kamu yang akan bercerita lebih banyak :)

Hari 14 Petualangan Sang Saka
Sabtu, 27 April 2013
13.00 Waktu Indonesia bagian Jam Saya

Siang itu sangat terik. Matahari sedang lucu-lucunya. Fiersa memilih diam di desa, menunggu untuk mengambil gambar atraksi Hombo Batu, sementara saya dan Baduy, ditemani dua remaja Desa Bawõ Mataluo, David dan Tina berjalan sekitar dua kilometer lebih dari desa mereka menuju sebuah tempat agak tersembunyi dari lalu lalang orang banyak. 

Biasanya, sebelum menuju destinasi, saya atau Baduy selalu mencari informasi terlebih dahulu dari manapun mengenai destinasi yang akan kami tuju supaya sedikit ada gambaran. Namun kali ini, tanpa sepengetahuan saya mengenai Namõ, anak-anak desa merekomendasikan dan mengajak saya untuk mengunjungi sebuah sungai yang saya sendiri tidak pernah lihat rupa sebelumnya dari media manapun.
  
Tak lebih dari satu jam berjalan kaki dari Bawõ Mataluo, kamipun sampai di sungai unik tersebut. Sungai Namõ, sebuah sungai berundak yang memiliki 12 (dua belas) telaga (Namo Sifelendrua = 12 Telaga). Dimana setiap telaga memiliki kedalaman yang beragam mulai dari 2 – 10 meter. Kalau kalian pernah mendengar cerita dongeng putri-putri atau bidadari sedang mandi, menurut saya tempat ini sangat cocok untuk dijadikan latar tempatnya. Sangat berkarakter.

Telaga Pertama
Keberadaan saya yang singkat di sini tidak saya buat percuma. Jiwa petualang harus dibuat hebat. Melompat dari atas batu tinggi dan berenang di telaga adalah hal wajib yang harus kalian lakukan di sini. Kalau ke sini jangan lupa bawa kamera! Waktu saya sama Baduy kesini, mirrorless NEX Baduy habis batere, jadi aja mau ga mau pake kamera darurat saya, kamera yang dipakai kalau kamera yang lain pada habis batere, kamera kodak jadul saya yang sangat keren pada jamannya. Iya, lumayan lah, gitu-gitu juga kamera 7,1 MP udah bisa berbagi keindahan Sungai Namõ ke kalian. Haha.

Tidak sampai disitu, hammuck yang Baduy bawa tak sia-sia. Dia menggantungkannya di atas telaga pertama. Tali pertama dia ikat di batu tinggi tempat saya melompat dan tali satunya dia ikat di batu sebrangnya. Untuk bisa tidur di hammuck, butuh kelakuan gila karena setelah dipasang, tinggi hammuck mencapai sekitar satu setengah meter dari permukaan telaga. Sementara bila ingin meraihnya langsung dari bawah, tiga meter dari dasar telaga (mendekati pinggir telaga) adalah jarak yang sulit dijangkau untuk bisa tidur langsung di hammuck. Inilah petualangan. 


Destinasi yang kita tuju bisa saja sama, tapi petualangan akan benar-benar kamu rasakan ketika kau menciptakan petualangan sendiri.

Make Your Own Adventure
Setelah “menggila” di telaga pertama, saya menyusuri menuju telaga selanjutnya sambil mengambil gambar. Kata “keren” dan “Subhanallah” serta “Ya, Alloh... Ya, Alloh...” tak lepas dari ucap hati saya.

Sebenarnya, ada sedikit keanehan dan kejanggalan ketika saya berenang di Sungai Namõ. Entah perasaan saja atau bagaimana. Namun, perasaan saya itu sedikit terjawab. Ternyata istilah “Sungai Putri Bidadari” yang saya sebut sendiri tak sebanding dengan kisah dibalik sungai itu. Menurut cerita beberapa kawan saya di Mataluo, sungai itu menjadi saksi bisu peristiwa mengerikan di masa lampau.

“Sungai Namõ itu dulunya tempat orang dibunuh. Tempat eksekusi orang-orang yang melakukan kejahatan. Penjahatnya dimasukan ke dalam karung, diikat dengan batu besar, kemudian ditenggelamkan.”

“Kebanyakan banyaknya kejahatan apa?” ke-kepo-an saya muncul.

“Kebanyakan yang kasus asusila. Biasanya perempuan yang dihukum di situ. Kalau laki-laki, kebanyakan dipenggal. Bukan di Namõ sih dipenggalnya, tapi di gerbang tangga sebelum naik ke Bawõ Mataluo.”

What! Pantesan aja, perasaan saya sempat ga enak waktu berenang di sana. Sungai tersembunyi yang cantik itu telah lama menyembunyikan kejadian menyeramkan. 

Menuju Telaga Kedua
Aliran Air dari Telaga Ke-2 Menuju Telaga Ke-3
Sisi angker lainnya adalah adanya legenda makhluk yang disebut Handrauli. Tidak terlalu jelas wujud makhluk tersebut.

“Zaman dulu, katanya, di situ ada makhluk berbentuk ular besar tapi bersayap. Bermukim di sungai itu atau di sejumlah gua/terowongan yang diduga ada di kawasan sekitar sungai tersebut. Manusia atau hewan yang jatuh di namö itu, dipastikan pasti mati dan dimakan oleh mahkluk itu. Ceritanya begitu, sehingga orang takut ke sana. Entah benar atau tidak, kita tidak tahu,” ujar Ama Atiba, salah satu warga desa. Ariston membenarkan soal legenda Handrauli itu dan mengakui kalau hal itu juga menjadi penyebab jarangnya telaga-telaga itu dimanfaatkan warga.

Namun, menurut Waspada Wau, seorang tokoh masyarakat Desa Bawömataluo, legenda itu kemungkinan ditujukan untuk ‘menakuti’ agar tidak sembarangan orang bermain di sekitar sungai itu. Sebab, sungai itu dan kawasan sekitarnya, karena konturnya, sangat berbahaya. dikuatirkan, bila tidak hati-hati, bisa menimbulkan korban jiwa.

(Sumber : Nias Online)

Tapi tenang saja, masbero-mbakbero. Toh sekarang Namõ yang cantik itu tetap didatangi warga sekitar dan pengunjung sampai sekarang. Kalau niat kalian ke sana ga buruk, ngapain takut? Tapi tetap harus hati-hati. 


Alam pun ingin dihargai. Kau tak bisa menyalahkan tingkah laku alam di atas celakamu. Karena alam pun berhak melindungi dirinya dari tangan-tangan tak diberkahi dan akan memberikan pesona paling indah bagi mereka yang menjaganya.

Demikian sepenggal kerupawanan Sungai Namo. Saya harap di antara kamu bisa memberikan cerita atau informasi jauh lebih banyak. Selamat berpetualang! Salam Indonesia :)



Diketik di :

Erick Green House, Pantai Iboih, Pulau Weh
Ditemani keheningan, hampar laut yang melambai, ombak-ombak bernyanyi, 
dan mungkin ikan-ikan yang tak lelah menari.

Postingan terkait:

8 Tanggapan untuk "Namõ Sifelendrua, Si Cantik yang Tersembunyi di Nias"

Anonim mengatakan...

great job nisa...

PR yang bagus. suka cerita sederhananya.
*PENASARAN! hewww... heeeww...

happy advnture nisaaaaa ;)

Anisa @PREMOUS Andini mengatakan...

Ayo hitching kesiniii hhehee...
Makasih udah mampir... :)

Trims...
Happy hitching..... :D

Yanti Yulianty mengatakan...

teteh kereen !!

Dian Fernanda mengatakan...

#mikir
itu BAduy gmn naik hammuck nya ya? hehe..
Keren Prem ceritanya :)

Anisa @PREMOUS Andini mengatakan...

@dian : ya begitulaah... butuh perjuangan 5 hari 5 malam :))

ilwan Nehe mengatakan...

Wooooowww luar biasa ya . Hehehehehehehe.. Itu artinya prem harus balik ke nias lagi . Dan kumpul-kumpul sama kita" lagi. Hehehehehe.. Kalo mau lebih ingin tahu tentang BAWOMATALUO pak Waspada Wau tinggalnya di bekasi prem.. W sering main malah di rumahnya.. Sejarahwan Bawomataluo. Hehehe semangat buat kalian. Gbu

Oktonius ndruru mengatakan...

Wah mantap! Pengen kesana

Tiffany Lim mengatakan...

Agen Bola
Agen SBOBET
Agen Judi
Bonus
Prediksi Bola Jitu
Pendaftaran