Sececah Kisah Desa Bukit Matahari

Oleh : Anisa Andini

Ya’ahowu. 

Apa kabar, Mataluo? Belum satu minggu aku meninggalkanmu, mengapa sudah ada rindu yang menggebu? Apakah mungkin ada pertemuan yang belum kita selesaikan hingga seperti itu? Aku masih ingat pertemuan pertamaku, kamu, dan bersama dua orang pemuda yang sama-sama berjuang untuk menemuimu. Dan masih sangat terngiang di telinga tentangmu di luar sana yang mengatakan bahwa kau akan memperlakukanku dengan tidak semestinya. Aku tak mengerti apa berarti bila aku bertemu kau akan menganggapku domba yang akan diterkam kuat dengan kuku serigalamu?
Aku tak bisa percaya begitu saja. Apa aku harus mundur karena sesuatu yang belum terbukti? Aku memang harus berhati-hati terhadap semuanya. Tapi yang membuatku begitu kuat ingin berjumpa denganmu adalah pertama, meski banyak cibiran miring tentangmu, tapi tak sedikit pula yang mengaku bahwa kau sangat istimewa. Sangat istimewa dan berbeda. Dan yang kedua adalah bahwa kau sama sepertiku. Kau Indonesia, Mataluo. Kau Indonesia.

***

Hari 13
Jumat, 26 April 2013

Berjalan dari penginapan Mama Nelly di Sorake, tiga musafir pejuang mimpi kembali melangkahkan kakinya menuju Pertigaan Lõhõ sembari mencari tumpangan yang bersedia mengantar ke sana. Setelah dua kilometer menambah jarak, akhirnya kami menemukan mobil pick up yang pengangkut pasir yang dengan senang hati menurunkan kami di Pertigaan Lõhõ.

Beranjak dari Lõhõ, kami meneruskan kaki-kaki menuju arah ke Desa Bawõ Mataluo sembari mencari kembali mobil tumpangan menuju kesana. Jalan semakin jauh, namun kendaraan yang kita harapkan tak kunjung datang. Akhirnya angkutan umum menuju desa tujuan kami terlihat dan tanpa banyak berpikir telunjuk kami mengayun, pertanda kami akan menjadi penumpangnya. Baduy memilih duduk di atap angkutan sementara saya dan Fiersa duduk normal di dalam angkutan bersama sejumlah anak-anak remaja Nias yang selesai sekolah.

Setengah jalan yang agak menanjak kami nikmati sampai akhirnya lima belas menit kemudian, nampaklah rentetan tangga yang tak asing untuk saya. Tangga-tangga yang biasanya hanya saya lihat dalam buku panduan pariwisata dan gambar-gambar di Mbah Google, kini akan aku pijak dengan kaki sendiri. Ya, tangga menuju sdsa dimana kamu dapat melihat sunrise dan sunset dari desa yang sama, Bawõ Mataluo. Desa yang sangat ingin saya lihat dengan mata kepala saya sendiri.

Seturunnya dari angkutan umum, kami langsung menuju tangga-tangga itu. Keberadaan kami yang seperti wisatawan mengundang pemandu-pemandu lokal untuk mendekati kami.

“Kaka, mau kemana? Ke Mataluo, Kak?”

Seorang pemuda bertanya pada Baduy dan ada seorang lagi yang mendekati Fiersa. Saya hanya melihatnya. Membantu sedikit menjawab pertanyaan-pertanyaan para pemandu yang menyerbu kami bertiga. Terjadi baku tanya jawab antara kami dan pemandu-pemandu muda itu seraya berjalan menyelesaikan anak tangga. Setengah pemandangan hebat membuat saya tercengang hingga langkah saya terhenti di beberapa anak tangga sebelum akhirnya sampai di atas.

Bleg! Mata saya terbelalak, mulut saya setengah terbuka. Langit biru muda dan gumpalan awan yang terhampar luas seolah mengucap Selamat Datang di Desa Bawo Mataluo, Orang Baru.
Oleh : Anisa Andini
Saya terkesima. Namun tak lama membuyar karena masih menjawab pertanyaan-pertanyaan dari para pemandu. Karena matahari sedang lucu-lucunya, kami duduk-duduk dulu di depan warung pertama yang kami lihat dan membeli sebotol minuman dingin yang paling perhatian akan kelelahan kita saat itu. Pemuda-pemuda itu ikut duduk dan melanjutkan obrolan dengan kami.

"Kepala desanya lagi ke upacara kematian dulu, Kak." ujar seorang pemuda menjawab pertanyaan kami tentang keberadaan Pak Kepala Desa.

"Ya, ga apa-apa. Kita nunggu aja sampai beliau datang."

Seorang pria tua menghampiri dan salah satu pemuda menunjukan bahwa pria tersebut adalah asisten kepala desanya. Pria tua itu masuk dalam obrolan kami dan bertanya-tanya maksud kedatangan kami ke sana. 

"Kalau mau ketemu langsung sama Bapak Kepala Desa, boleh sambil tunggu aja di sini. Boleh lihat-lihat atau jalan-jalan di sekitar Bawõ Mataluo.”

Kalimat itu mengakhiri pembicaraan kami dengan rekan kerja Bapak Kades kemudian pergi melanjutkan pekerjaannya, sementara kami dan para pemuda Nias meneruskan obrolan yang lebih santai. Sesekali saya, Fiersa, dan Baduy secara bergiliran mengelilingi Bawõ Mataluo. Berjalan di jalur utama desa bagai model catwalk yang berlenggak lenggok di atas panggung. Pandangan-pandangan warga desa yang mengarah pada kami ketika mengamati aktivitas mereka. Mungkin karena kami orang baru yang belum pernah dilihatnya yang menyebabkan mereka seperti itu.

Saya memperhatikan apa-apa yang ada di sana. Tak seprimitif yang saya dan banyak orang bayangkan. Mereka sudah mengenal alat-alat elektronik yang biasa digunakan di kota. Bahkan gadget canggih seperti laptop dan smartphone bermerk sudah menjamah kawasan desa ini. Sudah sangat lebih dari modern menurut saya.

Batu setinggi 2,1 meter yang namanya melanglangbuana seantero jagad raya tak lupa kami dokumentasikan. Ya, kalau kalian ingat dengan gambar yang ada di pecahan uang Rp1.000,-, itulah batunya. Batu yang selama ini hanya bisa aku pegang sebatas jari pada selembar kertas dan sebatas mata pada gambar di buku atau di dunia maya, kini tepat ada di depan mataku, bisa kusentuh langsung dengan jari-jariku sendiri. Batu Lompat Nias.

“Mimpi apa saya?” Fiersa yang dirinya sendiri masih belum percaya dengan keberadaannya saat dekat dengan batu itu.

Serampungnya mengitari desa, Fiersa kembali ke depan warung tempat kami bertiga duduk bersama para pemuda Nias. Dia yang mulai mengeluarkan tembakau Jawa ternyata mengundang ketertarikan para pemuda dan membuka keakraban kami bertiga dengan mereka. Irsandy, seorang pemuda Mataluo bermarga Bali, Ilwan dan Christiand yang memiliki marga sama, Nehe, dan Steven Zagoto, serta pemuda lain menikmati kedekatan dengan kami bertiga.

Suatu keistimewaan tersendiri bagi saya saat bertemu orang-orang baru. Ketika mereka menyebut nama-namanya, mereka satu langkah lebih dekat untuk saya anggap saudara. Entah berlebihan atau apa, tapi bagi saya, nama adalah suatu hal indah yang enak didengar setelah berjabat tangan.

Setelah cukup lama ngobrol dengan mereka, kami diajaknya ke kursi besar terbuat dari batu yang tepat terletak di depan rumah raja, rumah paling besar di Bawõ Mataluo. Teras itu menjadi tempat berkumpulnya warga-warga Mataluo untuk duduk santai.

Matahari mulai meredup, lebih menghangatkan. Saya sangat menikmati sore Bawõ Mataluo. Melihat bocah-bocah yang berlari kesana kemari, menertawakan keasikan mereka yang bermain lawa-lawa kahe (enggrang), dan menyimak Fiersa yang sedang berbagi cerita dengan para pemuda Mataluo.

Dari teras rumah raja tersebut, terlihat Baduy sedang berbicara dengan seorang lelaki paruh baya di samping Batu Loncat. Dan tak lama nampak masuk ke dalam sebuah rumah yang menjadi tempat tidur kita selama di Bawõ Mataluo. Bang Iman, seorang lelaki yang memiliki tiga orang anak, menawarkan sekaligus mempersilakan kami bertiga menginap di rumahnya. Sebuah hoki yang tinggi bisa merasakan hawa untuk terlelap di rumah adat.

Matahari mulai mengantuk, tapi aktivitas di desa itu masih ramai. Saya ditemani Tina, seorang gadis Bawõ Mataluo, menikmati senja dari atas desa. Fiersa dan Baduy menyusul, bocah-bocah dan para gadis Bawõ Mataluo menghampiri kami. Di situ saya berkenalan dengan David, Irna, dan Merry, anak-anak beranjak remaja yang ikut nimbrung melihat senja, serta masih banyak lagi saya dapat kawan baru. Saking banyaknya berkenalan, saya tidak ingat semua nama-namanya.
Oleh : Anisa Andini
Malam penuh bintang berserakan di cakrawala, saya yang belum mandi tiga hari diajak Tina, Irna, dan Merry bermain voli sesudah kembali berputar-putar di area Bawõ Mataluo. Semakin berkeringat, tapi saya lupa rasanya karena bahagia bisa bersua dengan mereka. Fiersa yang bergitar ria bersama pemuda-pemuda desa serta Baduy berbicara dengan siapapun yang ditemuinya. Ah, kami sudah seperti bagian dari mereka. Begini indahnya.
Oleh : Baduy Packer
Terbersit pikiran tentang perkataan miring seputar Nias. Mungkin mereka yang bertutur begitu adalah mereka yang belum menyentuh langsung suasana di sana. Atau barangkali mereka yang menutup diri bahwa masih ada saudara-saudara yang ingin dikunjungi. Ah, entahlah apa itu. Tak sampai dalam saya memikirkannya.

Tak berhenti sampai di situ. Keesokan harinya, siang hari saya dan Baduy bersama David dan Tina menuju tempat yang sangat molek. Sungai Namõ, sebuah sungai berundak yang tak jauh dari Bawõ Mataluo menjadi tempat terakhir saya dan Baduy sebelum kembali ke Sibolga. Fiersa yang tak kalah beruntung, mendapat hasil jepretan DSLR-nya mengambil gambar Ilwan yang berhasil lompat batu untuk dipertunjukan kepada turis yang sedang menyambangi Bawõ Mataluo. Di kala orang lain kebanyakan harus mengeluarkan biaya untuk melihat atraksi hombo batu, Fiersa adalah segelintir manusia yang beruntung tak melakukannya.

Jam tangan menunjukan pukul 17.00 waktu sekitar, kami bertiga harus segera meraih Pelabuhan Teluk Dalam sekitar satu jam. Ingin rasanya mengulur waktu untuk beranjak dari sana, tapi apa daya, jika kami bertiga tidak berlayar hari itu, kami harus menunggu satu minggu lagi untuk menyebrang Sibolga dari Teluk Dalam atau berangkat tiga jam ke Gunung Sitoli dan menyedot kembali biaya lebih banyak untuk mendapat kapal menuju Sibolga.

Perpisahan kami dilepas tangan-tangan melambai, senyum-senyum yang memohon kami akan kembali, dan ucapan manis dari warga desa Mataluo. Ah, saya tidak ingin menyebutnya perpisahan. Itu adalah pertemuan yang belum selesai. Entah kapan, saya akan kembali karena saya sangat ingin kembali ke sana. Tak tahu waktu kapan yang akan menggabungkan saya dengannya.

***

Kamu yang ada di sebrang sana,

Kau tak perlu khawatirkan semua bualan tak berguna yang berkenaan denganmu, lebih baik kau doakan untuk mereka yang selalu mendoakanmu pula, mereka yang mengharapkan kamu lebih baik, lebih maju, dan lebih Indonesia. Apa kau akan mengirimkan aku doa? Berharap tulisan ini sedikit mengurangi dongeng-dongeng buruk tentangmu. Terima kasih, Bawõ Mataluo. Untuk semua pesonamu, keramah-tamahanmu, senyum-senyum anak negeri lain yang mampu kau hadirkan, gelak tawa yang kita cipta bersama, dan untuk semua cerita hebat tentang desamu, tentang Desa Bukit Matahari.
Oleh : Baduy Packer
Oleh : Anisa Andini
Oleh : Baduy Packer
Oleh : Baduy Packer


Postingan terkait:

5 Tanggapan untuk "Sececah Kisah Desa Bukit Matahari"

delazael mengatakan...

kereen prem, lanjutkan
turut senang mendengarnya dari sini :)
masih slalu berdoa untuk keselamatan kalian disana

delazael mengatakan...

Keren prem, turut senang mendengarkannya dari sini
lanjutkann
masih slalu berdoa untuk kesehatan dan keselamatan kalian disana :)

Anisa @PREMOUS Andini mengatakan...

Trims, Dela :)
Amin... trims banget..
Sini menyusul kita hehe

Dian Fernanda mengatakan...

Keren Prem..
Salah satu sudut Indonesia yg luar biasa,,
Di tunggu cerita luar biaas selanjutnya
:)

Anonim mengatakan...

Trims, Dian....
Sangat luar biasa bisa berbagi cerita...

:)