Amma Towa, "Baduy" versi Sulawesi Selatan

Oleh : Anisa Andini
Siapa yang tahu orang Kanekes alias Baduy? Mungkin di antara kalian sebagian orang pulau Jawa cukup familiar dengan nama itu. Ya, sebuah kelompok masyarakat adat Sunda di wilayah Banten yang oleh orang kebanyakan diakui sebuah suku yang masih kental dengan mistis. Sebenernya saya belum pernah mampir ke Baduy sih. Kagak tau Baduy itu kayak apaan. Cuma kata orang dan cerita teman-teman yang pernah berkunjung ke sana, Baduy itu terbagi menjadi Baduy luar dan Baduy dalam. Dimana Baduy dalam adatnya jauh lebih ketat daripada Baduy luar. Listrik, teknologi, sampai alas kakipun dilarang dipergunakan di sana. Dan kalau berpakaian harus kain berwarna hitam atau gelap.

Indonesia itu memang ga ada matinya! Oke, kalau Pulau Jawa punya Baduy, Sulawesi pun punya sebuah adat budaya unik yang mirip-mirip sama Baduy. Siapa tahu? Terletak di Provinsi Sulawesi Selatan. Yoi, men ! Orang-orang menyebutnya dengan suku Kajang. Sama halnya juga seperti Baduy, Kajangpun terbagi menjadi Kajang Luar dan Kajang Dalam.

Hari 58 / Senin, 10 Juni 2013
Setelah dua malam di Tanjung Bira, perjalanan saya kali ini ditemani seorang perempuan eksotik asal Jakarta yang mengaku ibu penyu, Vindhya , dan seorang lelaki kribo kegimbalan asli Bugis yang anti-nasi bernama Anco . Angin Bira membawa saya ke sebuah pedalaman yang terletak di kabupaten Bulukumba, sekitar 40 km dari Tanjung Bira. Menggunakan dua kali naik pete-pete (angkot) dan sedikit berjalan kaki 100 meter, sampailah kita di rumah Kepala Desa Bonto Baji. Sebenernya tujuan kita bukan ke sini. Tapi waktu itu, Anco, yang setahun silam pernah mengabdi di daerah Kajang ini, mencari informasi untuk mencapai Amma Toa lewat jalur belakang yang katanya lebih cepat. Jadi nyasar dulu di Kades Bonto Baji, ngobrol-ngobrol cantik dulu sama Ibu Kadesnya, karena Bapak Kades sedang ke Makassar. Tapi ga rugi lah, sebagai musafir happy, kita bertiga seneng-seneng aja tuh nyangkut di rumah orang. Ya selain disuguhin, candaan kita menghasilkan sebuah sarung Kajang yang diberikan sama Ibu Kades dengan cuma-cuma.

"Ibu punya tuh kain Kajang, tapi udah bekas pakai."
"Haha, ga apa-apa, Bu. Asal diskonnya gede. Hehe." kata Anco bercanda.

Si Ibu masuk ke dalam rumah, keluar-keluar bawa sarung Kajang. 

"Nih, ada tapi bekas. Ga apa-apa?"
"Wah, makasih, Bu. Berapa nih?"
"Ah, udah ambil aja. Tapi cuma satu. Kalian kan bertiga."

Dapet sarung Kajang, men! Itu kalau beli harganya kisaran 500-700 ribu dengan proses pembuatan satu kain Kajang bisa sampe 1 (satu) bulan! Akhirnya sarung itu menjadi milik kita bertiga (dulu). Anco yang pertama pegang-pegang itu sarung, dielus-elus, kayaknya sayang banget sama kain itu berasa ngelus-ngelus dada (dada Jupe). Kemudian saya yang menyatroni kain itu dan memakainya seperti orang Kajang Dalam. Terus narsis-narsisan depan rumah Kades biar kayak penduduk setempat.
Jadi orang Kajang Dalam ! :D (Oleh : Vindhya)
Waktu saya lagi narsis-narsis ternyata ada lewat orang Kajang Dalam depan rumah Kades Bonto Baji. Saya lihat dari kejauhan, ada ibu-ibu lagi jalan ke arah saya. Makin lama wajahnya jelas, mukanya sedih banget. Kayak galau akut. Pake kainnya beda sama saya. Dia ga pakai pakaian dalam, tapi langsung dijadikan kemben, disarungin terus sebagian sarung jadi penutup kepala. Saya ajak si ibu yang bersedih itu untuk berfoto ria. 

"Bu, boleh foto ya."
"Bla...bla..bla... (ngomong Bahasa Konjo) "

Buset dah kagak ngarti ngomong apa dia. Saya tunjuk aja kamera yang dipegang Vindhya, terus si ibu ngeliat kamera. Cepret! Kamera Vindhya beraksi. Asik, dapet foto sama orang Kajang dalem. Haha. Norak MODE ON. Padahal ntaran juga bisa foto-fotonya.
Oleh : Vindhya
Eh, waktu saya balik lagi ke teras rumah Kades Bonto Baji, ternyata Ibu Kades bilang, kalau orang Kajang Dalam pakai kainnya seperti gambar ibu di atas, berarti dia sedang berduka, ada keluarga dekatnya yang baru meninggal, dan harus berpakaian seperti itu sampai 100 hari terhitung ketika keluarganya meninggal.

Waduh, langsung ngerasa bersalah. Orang lagi sedih malah difoto. Bukannya disemangatin. Mungkin ibu tersebut baru saja menjanda seperti Ibu Megawati atau entah siapanya yang meninggal. Tapi seengaknya saya ngajak si ibu biar ga galau, jadi foto-foto. Ngeles deh, ah.

Langit siang menegur sore, kami melanjutkan perjalanan menuju rumah Kepala Desa Tanah Towa. Rumah Kades tersebut adalah pertanda bahwa kawasan suku Kajang Dalam semakin dekat. Dan biasanya para pengunjung singgah dulu di situ untuk mengisi buku tamu atau istirahat sejenak, sebelum melanjutkan ke area Kajang Dalam.
Rumah Kepala Desa Tanah Towa (Oleh : Vindhya)
Waktu sudah semakin sore, karena di kawasan sama sekali ga ada listrik sama sekali untuk penerangan, kita bertiga yang pengen tidur di rumahnya Amma Towa harus mulai jalan lagi ke dalam sebelum gelap. Tapi beberapa orang yang ada di Kades Tanah Towa menyarankan untuk bermalam di kediaman Bapak Kades karena biasanya pengunjung nginap di sana. Tapi kita bertiga tetap ingin mencoba dulu untuk bermalam di sana, ya kalau ga diperbolehkan, tinggal balik lagi ke rumah Kades.

Banyak orang luar sana bilang bahwa masuk ke dalam kawasan itu ga gampang. Tak sedikit dari mereka yang memperingatkan untuk berhati-hati. Mungkin jauh sebelum sekarang, memang sangat sulit untuk menjamah Kajang Dalam apalagi bertemu dengan Amma Towa. Tapi seiring jaman mereka pun lebih terbuka dengan pendatang. Kita bertiga yang dengan santai dan tanpa niat buruk, hanya ingin silaturahmi dengan Amma Towa. Silaturahmi dengan saudara satu Indonesia. Titik.

Berjalan sekitar 200 meter menuju kawasan Kajang Dalam. Area ini memang masih banyak ditumbuhi hehijauan. Sangat menjaga hutan. Menurut mereka, banyaknya hutan adalah penentu banyaknya hujan. 

Hutan bagi suku Kajang diibaratkan jantung manusia. Hutanlah yang berfungsi mengatur dan menyeimbangkan antara musim hujan dan kemarau. Jika hutan berkurang, hujan pun akan berkurang, begitu menurut mereka. Masyarakat Kajang membagi hutan dalam empat kawasan. Kawasan terlarang merupakan kawasan hutan sama sekali tidak diperbolehkan dimasuki manusia. Apa yang ada di dalam hutan itu pun tidak boleh diganggu. Namun, ada pengecualian bagi mereka yang tersesat dan masuk ke hutan itu tanpa sengaja. Mereka bisa mengambil buah-buahan untuk dimakan, tapi dengan syarat, tak boleh dibawa keluar dari kawasan itu. 
Kawasan selanjutnya adalah hutan adat. Hutan ini boleh dimasuki pada waktu tertentu. Isi hutan boleh diambil dan dipakai hanya untuk keperluan adat yang tentu saja atas seizin Ammatoa (kepala adat). Kawasan berikutnya adalah hutan produksi, dimana masyarakat boleh mengelola hutan secara bersama-sama dan mengambil hasilnya, misalnya untuk persawahan dan kebun. 
Selanjutnya adalah kawasan hutan masyarakat. Masyarakat boleh masuk ke dalam hutan ini dan mengambil hasilnya hanya saat panen saja. Misalnya untuk mengumpulkan madu, buah-buahan, dan sebagainya. Hutan adalah sesuatu yang sangat sakral. Karenanya, menebang pohon, mencabut rumput, atau berburu satwa harus seizin Ammatoa. Seorang boleh menebang pohon untuk dijadikan rumah untuk sekali dalam seumur hidupnya. 
Masyarakat Kajang percaya Tuhan menciptakan alam dan seisinya untuk kesejahteraan seluruh umat manusia. Mereka yang hidup saat ini bertugas menjaganya untuk dinikmati generasi selanjutnya dengan kualitas yang sama. Penjagaan hutan agar tetap lestari didasari pemahaman bahwa Tuhan akan memberikan ganjaran setimpal bila masyarakat menuruti segala aturan-Nya. Begitu pula ganjaran bila masyarakat melarikannya. Jadi, saat manusia menjaga alamnya,alam juga akan menjaga manusianya. 
(Sumber : Paradigma Kaum Pedalaman)
Oleh : Anisa Andini
Mulai memasuki kawasan adat Amma Towa. Saya mulai melihat lebih banyak orang-orang Kajang Dalam yang berpakaian hitam-hitam dengan kain khas yang membelit di tubuhnya dan berjalan beralaskan  apapun yang diinjaknya. Namun tak semuanya pula berpakaian seperti itu, entah karena memang belum dewasa atau bagaimana, anak kecil adat Amma Towa rata-rata menggunakan pakaian yang tidak berwarna gelap. Pakaian mereka masih pakaian praktis yang dipakai orang pada umumya. Kebanyakan yang berpakaian ala suku Kajang adalah para orang tua dan orang yang sudah dewasa.
Kami bertiga terus berjalan. Kagetnya, ternyata Anco juga belum pernah masuk sampai kawasan. Bermodal percaya diri dan niat yang baik, tanpa pemandu pun kami terus mencari rumah Amma Towa. Kepo sana sini tanya orang yang lewat. Saran nih yah, kalau ke sini sebaiknya pakai pemandu atau bawa teman yang ngerti bahasa Konjo. Anco orang Bugis, bahasanya dengan Konjo agak-agak mirip. Meski ga sama, tapi seengaknya ya bedanya juga ga jauh-jauh amat. Jadi Anco masih bisa ngerti apa yang orang Kajang bilang.

Jalur tanah, terkadang bebatuan yang tersusun begitu saja seenaknya. Basah, sehabis hujan. Kami melewati sebuah tempat pemandian dimana orang suku Kajang biasa membersihkan badan atau mencuci baju di situ.

Pergi mandi (Oleh : Anisa Andini)
Senyum Pedalaman
Oleh : Anisa Andini
Akhirnya setelah ber-kepo ria ke warga-warga desa yang lewat, sampailah di saat yang berbahagia. Dengan selamat sentosa mengantarkan ke depan pintu gerbang kemerdekaan rumah Amma Towa. Hore...! Tepuk tangan dulu.

Dalam bayangan saya, kepala suku adat itu kaya di film-film. Pake busana paling heboh, pernak pernik segala macem paling lengkap serba ada kayak mau dagang asesori pokoknya. Dandanan paling rapi dan pembawaannya menjaga image sampe susah diajak bercanda.


Saya dan dua teman saya memasuki teras rumah Amma Towa. Kita yang menggunakan alas kaki, segera melepasnya saat mulai menginjak area rumah Amma dan menyimpannya di luar area rumah beliau.



Langkah demi langkah bertambah, jalan menuju masuk rumah yang terbuat dari batu tersusun rapi mengantarkan kami ke sana. Menaiki anak tangga yang tidak banyak jumlahnya. Di dalam rumah Amma cukup ramai, ada beberapa tamu Amma yang sudah datang lebih dulu pun menyambut kami. Kami memasuki ruangan berbentuk segi empat rapi dengan dapur yang terletak tepat setelah pintu masuk. Cahaya tak terlalu banyak, tapi semua terlihat jelas. Tamu. Beberapa orang tua duduk bersila di beberapa sudut. Mata saya jelalatan, mencari orang macam apa yang memimpin suku adat Amma Towa ini. 

Tamu-tamu Amma sudah pulang, tinggal ada tiga orang tua di dalam ruangan itu. Satu lelaki tua duduk dekat pintu masuk. Satu perempuan tua terlihat mendampingi seorang lelaki gagah yang duduk agak jauh di sebelahnya. Mata saya tertuju pada pria yang terduduk di sebelah perempuan itu.


Lelaki dengan badan setengah telanjang, tanpa memakai baju atasan, hanya menggunakan sarung Kajang khas yang dipakai menutupi tubuh bagian pinggang ke bawah. Kepalanya ditutupi dengan passapu, sebuah penutup kepala khas Kajang yang terbentuk karena lilitan kain hitam, dipakai hanya untuk para lelaki suku Kajang.


Badan Amma tegap, gagah. Ini laki kayaknya ganteng banget waktu muda. Kata saya dalam hati. Di usianya yang sudah senja, beliau masih sangat segar bugar. Terlihat giginya sangat sangat sangat rapi ketika beliau menyambut kami dengan bahasa Konjo. Anco yang paling ngerti bahasa Konjo di antara kita bertiga pun membalas salam dari Amma.


Widih baik banget. Ramah banget! Perempuan tua yang duduk di sebelahnya ternyata istri beliau. Cantik nih cewek waktu mudanya. Kata saya dalam hati lagi. Pokoknya waktu itu banyak banget deh ngomong dalam hati. Kami ngobrol-ngobrol dengan Amma. Untung ada penerjemah lokal sang Lelaki Bugis, jadi saya sama Vindhya bisa tanya apapun sama Amma.


"Ini apa?" tanya Vindhya sambil menunjuk sebuah wadah berlapis emas yang terletak tepat di depan Amma. Terlihat berisi penuh dengan tumpukan daun sirih. Kemudian Amma memperlihatkan apa-apa yang ada di dalam wadah itu. Daun sirih, pinang, dan gambir. Semua yang Amma pakai untuk membersihkan gigi. Kalau di Sunda namanya nyepah, gigit daun sirih biar gigi kuat.


"Mau coba?" Anco menerjemahkan pertanyaan Amma untuk kita.

"Mau...dong.."

Amma memilih satu daun di antara lembaran daun yang menumpuk. Mengambil satu dan merobeknya sebagian, melipatnya menjadi kecil, dan memberikannya kepada Vindhya, saya, juga Anco. Pasti pahit, gumam saya. Namanya juga daun sirih. Saya menggigit daun sirih itu perlahan. Awalnya saya gigit pake gigi geraham kanan beberapa kali sampai rasa pahitnya benar-benar keluar. Kemudian bergiliran menggunakan gigi geraham kiri, biar rata, sambil sikat gigi juga sebenernya. Soalnya jigong udah ga nahan. Padahal baru dua hari ga sikat gigi.


"Telan kata Amma." ucap Anco.


Mak... Oh, oke. Ditelan. Setelah dirasa cukup mengunyah daun sirih yang pahitnya setengah mati itu, ditelanlah si daun sirih. Glek...Ludah yang cukup banyak membantu si sirih masuk ke dalam tenggorokan. Buset dah, nyangkut di setengah dada. Saya minum air putih untuk membantu menelan untuk sampai ke lambung. Pahitnya, men. Sebenernya ga pahit-pahit amat, tapi rasanya nempel banget di lidah. 


Belum selesai ! Ternyata si buah pinang sudah melambai-lambai ingin dimakan sedari tadi. Amma menawarkan, saya dan Vindhya mau coba. Anco udah ga kuat sama pahitnya, sampai dimuntahin lagi malah. Dia sudah menyerah kepada kepahitan si daun sirih. 


Amma mengupas satu buah pinang. Dagingnya yang berwarna putih dicubit sedikit kemudian diberikan ke kita berdua. Wow ! Rasanya lebih pahit dari sirih! Pahitnya banget, tapi cuma sebentar. Terus kesat banget. Pori-pori lidah berasa keluar semua. Tapi enak, mulut jadi bersih banget suer dah. Kayaknya saat itu adalah saat dimana gigi saya adalah gigi paling bersih seumur hidup.


Cemilan sore suku Kajang ala Premous sudah selesai. Berlanjut dengan obrolan-obrolan. Saya memperhatikan Anco yang langsung berbincang dengan Amma. Sesekali dia ngasih tahu apa yang Amma bilang. Saya hanya menyimak, terkadang mencoba memahami apa yang Amma katakan. 


Pikiran saya tentang wujud kepala suku di film-film buyar. Amma adalah orang yang sederhana, bersahaja. Tak repot tubuhnya dipenuhi dengan segala sesuatu yang menunjukan dirinya adalah kepala suku adat. Wibawa dan pembawaannnya yang membuat beliau terlihat sangat pemimpin. Usianya ternyata sudah menginjak 70 (tujuh puluh) tahun. Saya berdecak kagum. Di kala orang tua lain sedang terbaring sakit tak berdaya di ranjang, Amma adalah orang tua yang masih sangat sehat dan terlihat 20 tahun lebih muda. Bahkan adik beliau pun terlihat jauh lebih tua daripada Amma.


Menjelang sore, dua orang perempuan datang. Satu di antaranya masih sangat muda dan yang satunya lagi dewasa dengan paras berbeda dengan orang suku Kajang kebanyakan. Lebih modis, memperhatikan penampilan. Kulitnya putih, cantik, rambutnya panjang sangat hitam, diikat. Wajahnya mirip dengan orang tuanya. Ya, itu Kak Ramlah, anak Amma yang ketiga. Ternyata dia lulusan sebuah universitas di Makassar. Tak heran jika penampilannya cukup berbeda dengan yang lain meskipun pakaian yang dia kenakan masih hitam-hitam, pasti ada pengaruh yang menyebabkan dia menjadi lebih modis. Tapi kerennya, meskipun sudah lama keluar dari kawasan adat Amma Towa, Kak Ramlah tetap sangat menjaga adat budayanya. Tidak mengenakan alas kaki, memakai pakaian adatnya, dan menjaga aturan-aturan selama di kawasan. Keren.

Diceritakan bahwa, di selatan rumah penduduk Kajang Dalam terdapat hutan terlarang yang sama sekali tidak bisa dijamah. Sangat keramat katanya. Sampai-sampai tidur pun harus dijaga. Kaki tidak boleh berada di selatan. Tidur harus menghadap utara atau menghadap arah lain selain selatan. Saya dan Vindhya yang sempet salah arah waktu tidur-tiduran, ditegur Kak Ramlah yang sedang memasak makan malam di dapur. Jadi malu.


"Eh, de. Jangan begitu tidurnya. Harus menghadap sini (utara)."

"Oh, gitu ya? Oia, iya. Makasih yah, Kak."

Percaya ga percaya, saya turuti aja. Mungkin adat budaya seperti itu. Saya tidak membangkang, hanya mencoba menjaga budaya mereka. Betapa menarik. Entah apakah hal itu bertentangan dengan agama? Apakah suatu hari akan musnah semua kebiasaan mereka karena termakan jaman? Berapa banyak penduduk negeri ini yang masih menjaga kental etnisnya? Saya tidak tahu. Pertanyaan-pertanyaan itu melelapkan saya, membawa saya ke alam mimpi.


Hari 59 / Selasa, 11 Juni 2013
Pagi ini adalah pagi dahulu yang saya temukan kembali di sini. Ayam-ayam jantan berkokok sebagai alarm pagi. Rencana kami bertiga ikut istri Amma ke pasar, batal. Karena beliau sudah berangkat sejak pukul 05.00 sedangkan kami bangun satu jam setelah Mamak pergi. Tapi karena kami ingin pergi ke pasar, jam 07.00 pun kami tetap berangkat. Saat penduduk lain sudah pulang dari pasar, kita malah baru mau pergi :|

Pasar bisa ditempuh dengan angkutan umum dari gerbang kawasan. Ongkosnya Rp 1.000 perak doang. Baru lagi tuh saya naik angkot harganya segitu.


Sampai di pasar, mata saya jelalatan. Cari makanan ringan yang bisa dilahap. Kemudian sarapan pagi di warung seberang pasar sambil nunggu hujan yang tetiba turun begitu saja. Setelah sarapan dan hujan reda, kami kembali menuju rumah Amma Towa. Mampir sebentar di Kades Tanah Towa lalu berjalan ke kawasan. Kali ini kami mencoba berjalan ke dalam tanpa alas kaki. Sendal kami titip di Kades Tanah Towa. 

Pagi hari di kawasan adat Amma Towa. Kanan kiri jalan adalah hijau. Pagi yang jarang ditemukan di peradaban kota. Dari kejauhan, terlihat seorang gadis Kajang yang disibukan dengan alat pemintal benang. 

Kasmi, gadis pemintal benang (Oleh : Anisa Andini)
Pemandangan lain pun kami temukan. Bubaran anak-anak sekolah dasar memenuhi jalur tempat kami berjalan. Bocah-bocah suku Kajang dengan senyumnya yang jujur berseragam SD tidak biasa. Tetap dengan kemeja putih, namun rok/celananya berwarna hitam, bukan merah.


Oleh : Anisa Andini
Kekepoan kami tentang suku Kajang belum berhenti. Kami diberitahu oleh Kak Ramlah tentang sebuah kuburan pertama yang ada di area Kajang Dalam. Beruntungnya kami diijinkan ke sana untuk melihat-lihat. Dan boleh ambil gambar. 

Ditemani seorang warga Kajang Dalam, kami menuju kuburan tersebut. Harus melewati beberapa kuburan lain. Terlihat berbeda dengan nisan pada umunya. Mereka memberi tanda khusus untuk setiap makam. Nisannya kebanyakan berbentuk segitiga, dan semuanya batu, tidak ada yang terbuat dari kayu. Di tengah makam, akan disimpan sebuah batu yang menandakan jenis kelamin dari mayat yang dikubur. Kalau batu yang di tengahnya satu, berarti dia laki-laki, kalau batunya dua, dia perempuan. 

Oleh : Anisa Andini
Kuburan bayi. Kiri satu batu (laki-laki), kanan dua batu (perempuan)
(Oleh : Anisa Andini)
Rumput-rumput tinggi dan semak belukar menghalangi jalur kami menuju makam pertama di kawasan Amma Towa. Tanpa membunuh penasaran, kami pun tak memaksakan kehendak untuk melihatnya. Jalur kesana menjadi sulit dilalui, harus memangkas pepohonan yang menghalangi jalan.

Setelah berjalan-jalan di area pemakaman, kami meneruskan berkeliling desa. Sepi sunyi desa sangat menarik, udara segar seenaknya masuk lubang hidung. Mata kami tertuju pada seorang ibu penenun kain. Kami mendekatinya, melihat lebih dekat dengan apa yang dikerjakannya. Kedua tangannya lincah memainkan alat tenun itu.

Benang yang mereka gunakan sebenarnya dibeli di pasar. Tapi untuk pewarnanya mereka memakai daun yang ditumbuk kemudian memberi warna pada benang. 
Pewarna benang alami. Hasil daun tarum yang ditumbuk. (Oleh  Anisa Andini)
Mengubah Benang Menjadi Uang 
(Oleh : Anisa Andini)
Tidak seperti kampung penghasil tenun lain yang sudah mulai memperjualbelikan tenun mereka, masyarakat Suku Kajang masih menenun untuk memenuhi kebutuhan mereka, atau untuk keperluan ritual adat. Meskipun ada satu atau dua kain yang dijual kepada pelancong jika mereka datang berkunjung.
Dalam soal menenun, sekali lagi Suku Kajang mengingatkan akan Suku Baduy, baik dari segi motif maupun warna kain tenun. Kedua suku adat tersebut menghasilkan sarung tenun hitam dengan motif garis geometris, yang membuktikan adanya paralel budaya antara Suku Kajang dan Baduy.
Adapun hingga kini, masyarakat Kajang masih mempertahankan motif kuno warisan leluhur, yakni motif ratu puteh, ratu gahu dan ratu ejah. Motif ini hadir berupa garis geometris halus yang membelah sarung tenun secara vertikal.
Namun tidak seperti tenun lain yang juga menjadi simbol status bagi penggunanya, tenun Kajang merepresentasikan keseteraan, semua orang bisa menggunakan motif yang sama di berbagai kesempatan.
Proses menenun di Suku Kajang masih terbilang tradisional dengan alat tenun peninggalan nenek moyang yang terbuat dari kayu. Masyarakat Kajang biasanya menenun di siring (bagian bawah) rumah.
Kendati demikian, sekarang ini mereka sudah tidak lagi menggunakan benang kapas, melainkan benang pabrikan yang diperoleh dari pasar di Kota Makassar.
Sebelum menenun, benang katun warna putih terlebih dahulu melewati proses pewarnaan alam dengan bahan baku daun tarum (daun nila atau indigo) yang telah dicampur kapur panas dan air abu dapur. Pewarnaan ini dilakukan selama dua kali dalam sehari dan berulang-ulang hingga menghasilkan warna biru kehitaman.
Bila sudah hitam, benang-benang dikeringkan untuk kemudian ditenun. Satu sarung Kajang dikerjakan selama kurang lebih 10 hari bila tidak pergi ke ladang, namun bila dikerjakan sembari berladang akan menghabiskan waktu selama dua minggu. Bila sudah menjadi kain, sarung dicuci menggunakan air tanpa sabun, kemudian dijemur.
Setelah kering kain digosok menggunakan bilalu keong laut berbintik untuk menghasilkan warna biru yang mengkilap. Di Suku Kajang, tenun tidak dipisahkan secara gender. Kain laki-laki manapun perempuan tidak ada bedanya.
Proses menenun yang mengajarkan cara hidup berdampingan dengan alam bisa dilihat sejak awal. Mulai pencelupan hingga pencucian, masyarakat Suku Kajang tidak menggunakan satu pun bahan kimia.
Bahkan untuk mencuci kain yang sudah jadi, mereka tidak menggunakan deterjen, hanya murni air. Dari pewarnaan, masyarakat Suku Kajang menggunakan daun nila (Indigofera tinctoria) yang merupakan pewarna alami. Adapun proses menenun yang membutuhkan waktu hingga dua minggu, menjadi ajang melatih kesabaran juga ketekunan.
Menelusuri jejak adat Tana Toa, seakan memasuki kehidupan masa lampau sekaligus zaman sekarang. Di satu sisi, situs-situs yang hanya dijaga warga memberi gambaran suku Kajang tempo dulu
Buah Coklat Hasil Desa Amma Towa 
(Oleh : Anisa Andini)
Siang tidak terlalu terik, tapi waktu sudah lewat tengah hari. Kami bertiga harus segera pamit pada Amma Towa untuk kembali ke Makassar. Saya berpamitan pada Amma. Menyalaminya, seperti menyalami kakek sendiri. Saya masih ingat cara beliau tertawa dengan gigi-giginya yang sangat tersusun rapi, suaranya yang sangat pria dan riang orang tua yang terpancar di mimik mukanya. Orang tua yang ceria dan luar biasa.

Belum 24 jam kami jejaki di sini, tapi kepergian saya dari rumah itu seperti meninggalkan kampung halaman. Sekali lagi, ini bukan perpisahan. Ini hanya pertemuan yang belum selesai. 
Lelaki Bugis - Anak Kepala Suku - Ibu Kepala Suku - Perempuan Eksotik
(Oleh : Perempuan Sundanesia)


Petang menyapa malam, mobil yang akan membawa kembali ke Makassar pun datang menjemput kami di rumah Kades Tanah Towa. Keseruan perjalanan edisi Bulukumba tidak berhenti di sini. Mobil Avanza kapasitas normal maksimal 8 (delapan) orang, sama si Abang Supir diatur supaya bisa muat sampe 18 (delapan belas) penumpang !!! Buset dah.



Selalu ada cerita di setiap perjalanan. Tempatku mungkin tidak dekat bagimu, tapi tidak perlu tempat yang jauh untuk menciptakan petualangan. Bahkan satu meter di tempatmu duduk sekarang, kau punya kesempatan untuk membuat sejarah hebat dalam hidupmu.

Ini petualanganku. Kamu?

Postingan terkait:

12 Tanggapan untuk "Amma Towa, "Baduy" versi Sulawesi Selatan"

Mawardah Hanifiyani mengatakan...

kereeeeeen! udah tertarik sama suku kajang, tapi sayang belum diberi kesempatan ke sana. hehe.
saya kagum, sama mereka. saya baru ngerti konsep penatagunaan hutan sama kosep DAS pas kuliah, sementara mereka udah ngerti itu dari kecil. hahaha asli keren! saya berasa ilmu saya masih kurang bangeeet. haha
lain kali saya nyusul kak ke sana ~

makasih informasinya nya loh kak :)

Anisa @PREMOUS Andini mengatakan...

Trims udah mampir.

Mereka hidup masih dalam yang menurut kita kurang tapi untuk mereka itu sudah lebih dari cukup, dan mereka menjaga apa2 yang sudah mereka syukuri dari dulu.

Coba kita orang kota? ada hutan sedikit, tebas. Jadi mal,. ada lahan sedikit, gusur, jadi ruko.

Terkadang saya sempet mikir, apa seharusnya orang kota yang harus nya belajar sama orang orang macam mereka?

:)

Anisa @PREMOUS Andini mengatakan...

Saya juga ga terlalu mengerti dengan hutan-hutan... tapi saya suka cara mereka memperlakukan hutan... :)

cumilebay.com mengatakan...

Mantap ... cerita nya lengkap serata terbawa kesana :-)

Aampai anak SD nya pun tetep pake bawahan hitam yaaa, jadi pingin beneran kesana. Perna denger cerita dari teman yg baru pulang dari sana 2 th yg lalu dan cukup menarik.

Anisa @PREMOUS Andini mengatakan...

@cumilebay : hehe trims sudah mampir..

ayo kesana, seru loh ;)

Aisyah Nur mengatakan...

seru.. z suka cara kamu menulis, kamu bisa membawa saya (seakan-akan) ikut petualangan kamu..
makasi wawan..ehh, maksudnya prem..heheheee

Anisa @PREMOUS Andini mengatakan...

@aisyah : trims... meskipun kerasanya masih acak adut :D
wawan ?! :|

Rio Billioner mengatakan...

mantap.......

rahardiansya mengatakan...

keren, saya juga berencana ke kajang, melihat lebih jauh kiprah perempuannya. semoga bisa belajar lebih banyak menjaga alam...

salum

opik mengatakan...

keren, semoga kapan2 saya bisa berkunjung kesana & belajar keraifan lokal suku disna.. trims :)

Reski Ramadhany mengatakan...

Keren. 😄

Tiffany Lim mengatakan...

Agen Bola
Agen SBOBET
Agen Judi
Bonus
Prediksi Bola Jitu
Pendaftaran