"GELAP" di Ujung Pulau [UNTOLD STORY]

Sumber Gambar : Wordpress
Dengan penuh kehati-hatian, aku mengikuti jalan permainannya. Pandangan mata Bu Lusi (nama samaran) sore itu saat Bang Diwan (nama samaran) mengajakku ke kota malam hari, gerak gerik Bang Diwan yang tiba-tiba baik hati padahal sebelumnya tidak ramah dan tidak ingin disapa, dan beberapa ajakan Bang Diwan padaku. Semua itu hal-hal yang menguatkan kecurigaanku.

Aku sengaja mengajaknya terus mengobrol, bahkan sampai hal yang tidak penting sekalipun. Aku bertanya tentang bangunan yang kita datangi. Bangunan peninggalan jaman dulu yang dijadikan tempat penginapan. Aku mengambil satu batang rokok yang aku hisap sangat lama, mengundur waktu dan berharap dia tak melakukannya.

Tas hitamku terus kupegang. Sedikit keringat kekhawatiran mengucur di dadaku. Tapi seketika kering karena hembusan angin di ruangan. Dia melepas tasku secara baik-baik. Aku masih mengikuti jalan permainannya. Dia mulai melepas kacamataku kemudian menarik tanganku yang otomatis mengubah posisiku menjadi berdiri. Tangan kiriku masih dia pegang dengan tangan kanannya, mengalengkan pada lehernya. Dan tangan kirinya menarik pinggangku, mendekatkan pada tubuhnya. Tanpa pikir panjang lagi, melepaskan sentuhan-sentuhannya pada ragaku secara menyentak.

“Maaf, Bang...”kataku. “Saya tidak mau.”

Bang Diwan tercengang sejenak. Kemudian mencoba bernegosiasi denganku.

“Ayolah, De. Sedikit. Pegang saja.”
“Maaf dengan sangat. Tidak.”

Masih dalam keadaan berdiri, kita saling memandang. Aku hanya tersenyum manis kecil sedikit sinis, menutupi ketakutanku, seolah memberi tanda bahwa aku baik-baik saja. Ekspresi kecewa muncul dari wajahnya. Pria dewasa berkulit gelap itu diam. Aku menjelaskan berulang-ulang bahwa aku tidak mau melakukannya. Untung dia tak memaksa. Jika itu terjadi, pisauku sudah siap bila dia berulah lebih jauh.

Dia duduk di kasur yang sangat besar dan lega itu kemudian berbaring, menarik selimut dan menutupi tubuhnya yang setengah telanjang. Masih tanpa bicara. Kamar dengan ukuran yang sangat besar, tinggi, dan luas itu kembali menjadi sangat hening seperti sebelum kami memasukinya. Hanya terdengar nafas kelegaanku.

“Sini berbaring sebelah saya. Saya janji tidak akan macam-macam. Kita istirahat saja.” dia kembali berbicara.
“Tidak. Aku tidak percaya. Haha. Maaf, ya. Saya ga mau.” Balasku mantap sambil agak bercanda.

Aku hanya duduk di kursi tangan yang terletak di samping kasur, bercerita pada Bang Diwan mengapa aku tak ingin berbuat tidak terhormat seperti itu. Dahinya yang setengah berkerut, disusul dengan kalimat yang membuatku setengah keheranan.

“De, maaf ya. Abang sumpah demi Alloh cuma ngetes.”

Aku tersentak. Pertanyaan kebingungan yang terlalu banyak dalam otak membuat mulut ini bungkam, tak bisa mengeluarkan tanya-tanya.

“Iya, saya cuma nguji. Ternyata, kamu berbeda...”

Mulutku menganga. Semakin diserang dengan tanda tanya. Suasana kembali hening, hanya terdengar angin malam yang berdesir, bermain-main di lubang ventilasi.

“Maaf, ya. Tadi siang, sebenarnya saya sudah diingatkan sama Bu Lusi (nama samaran) untuk ga macam-macam sama kamu. Tapi saya bersikukuh. Mungkin karena kebiasaan jelekku main perempuan, aku tak percaya. Semakin dilarang, saya malah semakin jadi.” Logat Acehnya terdengar kental tapi sangat jelas masuk ke pendengaranku.

***

Rubiah sore itu, sebelum malam.

“Wan, saya juga perempuan seperti dia. Kawan-kawan perempuan saya juga ga sedikit. Saya tahu mana perempuan nakal mana perempuan baik-baik. “ Bu Lusi mencoba mengingatkan.
“Ah, dia pasti nakal. Itu dia merokok kan?” Bang Diwan membela diri, berharap pernyataannya tentangku benar.
“Terserah kamu, Wan. Pokoknya aku sudah kasih tau kamu.”
“Ho, ya sudah. Mau kasih apa kalau aku bisa dapatkan dia?”
“Aku kasih kamu satu juta. Cash!”

Mendengar ceritanya, aku sangat terkejut. Tapi aku tidak ingin dulu sepenuhnya marah. Kesal memang, tapi sudahlah. Aku juga ingin bicara langsung dengan Bu Lusi, mengklarifikasi semuanya.

 “Sekali lagi maafin, ya, De. Abang juga jadi ingat. Abang punya adik perempuan. Dan sempat membayangkan bagaimana kalau dia dirusak orang lain. Abang pasti akan marah. Maaf, sekali lagi maaf. Kalau besok kita ketemu di Iboih atau Rubiah, pasti Abang akan sangat malu sekali.”

Jalanan kota Sabang semakin sepi. Hanya aktivitas lampu jalan dan remang-remang kedai malam. Pernyataan lelaki Aceh itu kubalas dengan peringatan agar segera tidak lagi melakukan hal yang sering dia lakukan ini. Aku tidak peduli apakah dia akan melakukannya lagi atau tidak, setidaknya aku sudah mengingatkan.

Perjalanan tak selamanya indah. Pulau Weh adalah tempat yang sangat menyenangkan sekaligus menjadi tragedi sendiri untukku. Aku berpetualang, bukan berarti aku seenaknya. Bukan berarti apa saja bisa aku lakukan. Bukan berarti kehormatanku harus hilang gegara hal yang menurutku bodoh. Aku berpetualang membawa nama baik keluarga, juga Sunda. Aku memang merokok, meski sedang mengurangi. Aku juga terkadang “minum” meski sekedar menyicip, dan melakukan hal-hal yang menambah berat dosaku lainnya. Tapi tidak untuk kehormatan yang satu ini. Tidak semua perempuan yang terlihat buruk menurut orang di depan mata, bisa diperlakukan seenaknya.

Perjalanan tidak selamanya mulus, kawan. Terkadang kau tergelincir dan kau harus mengendalikan kendaraanmu agar kau bisa tetap berada di dalam jalur. Mungkin jalan yang sedang kuhadapi adalah jalan yang rusak, tapi aku adalah pengendali hidupku sendiri. Aku harus bisa mengendalikan kendaraan nafsuku, menghindari jalan rusak itu.

Dan terima kasih, Tuhan. Kau telah menyelamatkan aku.


Sabang, 9 Mei 2013

Postingan terkait:

6 Tanggapan untuk ""GELAP" di Ujung Pulau [UNTOLD STORY]"

qnkpoenya mengatakan...

kami mendoakan.. dimanapun kamu berada... smoga slalu diberikan kesehatan dan keselamatan.. jgn menghilang ya ... meskipun di dunia maya.. kami slalu mengikuti mu....

qnkpoenya mengatakan...

Slalu semangat prem... sebagai perempuan Indonesia yg sedang menjalani cita-citanya...

Anisa @PREMOUS Andini mengatakan...

@qnkpoenya : Trims :) ga akan hilang, paling agak ngumpet :D

Anonim mengatakan...

long time no see prem.
kamu semakin perkasa tp kayanya aku gini2 aja.
malah jadi musafir kota.
hahaha... jd pengen ceritain 'The Untold Story' punya urang.
keep walking prem.
G2611* [mun teu salah mah.. hahaha.]

*)eta ge mun diaku keneh.

Anisa @PREMOUS Andini mengatakan...

@anonim : njir ieu saha? aing poho :|
cerita dong untold story nya :D
pasti seru

Anonim mengatakan...

HEBAT