Sumatera Barat Episode Air Terjun Ladang Uwak (Salam Selamat Tinggal dari Pacet)


Jumat, 19 April 2013 (Hari 6 Petualangan Sang Saka)
Hari kedua kita bertiga di Padang kita habiskan bersama pemuda pemudi mahasiswa Universitas Andalas, tepatnya mereka yang aktif di Mapala Paitua, Mapala Fakultas Teknik UNAND. Uli ngajak kita ke sebuah air terjun di belakang kampusnya yang bisa ditempuh selama dua jam. Aia Tajun (air terjun) Limau Manis atau mereka juga suka nyebut Ladang Uak.

“Ayo berangkat. Ntar kesorean. Ntar kemaleman balik lagi ke Paitua-nya.”

Butuh sekitar empat jam untuk pergi dan sampai kembali lagi ke Paitua. Sampai di UNAND, Uli mengenalkan kita dengan teman-teman seperjuangannya di Paitua. Gue berkenalan dengan anak-anak yang sedang kedatangan juga seorang abang yang mau mendaki Kerinci keesokan harinya (gue lupa namanya).

Tersebutlah Dayat, seorang pemuda petualang dengan rambut kribonya yang terikat rapi sebagai penunjuk jalan yang paling tau arah ke sana. Gue, Baduy, Fiersa, Uli, Rere, Winny, dan Dayat akan melakukan perjalanan menuju Limau Manis.

Untuk menuju kesana, harus liat dulu SIKONTOLPANJANG (Situasi Kondisi Toleransi Pandangan Jangkauan). Kita harus melewati sungai yang dimana kalau cuaca hujan gede, kita ga bisa lewat dan otomatis ga bisa ke Limau Manis. Tapi cuaca aman, sedang kemarau. Jadi kita bisa berangkat.

Sungai yang kita lewati ini penuh bebatuan. Dan ternyata kita sedang berjalan di dasar sungai! Kebayang kalau tetiba hujan badai deras, kita bisa tenggelam di situ dan ga bisa nyebrang. Karena sungai itu sering terjadi banjir bandang. Pinggir kanan kiri penuh dengan pepohonan tumbang dan habis kena sikat banjir. Ini tantangan, men ! Tapi bukan menantang.

Air sungainya jernih banget. Gue sempet minum dari air itu. Seger. Karena cape kali yak. Tapi gue minumnya sering banget. Berarti itu gue cape banget. Disiram cahaya matahari bikin cepet haus.
Menyempatkan naplok di batu
Seringkali kita harus nyebrang sungai sana sini. Terkadang ada arus sungai yang agak kencang yang bikin kita harus ekstra hati-hati saat melewatinya. Si Winny yang karena sempat lengah, dia nyebur setengah badan basah. Kocak!
Winny yang kehilangan keseimbangan. Deres, men!
Sinterklas nyebrang sungai.
Menemukan alat penghancur monster! Bip bip bip!
Di perjalanan, kita menemukan sebuah alat yang dicurigai adalah sebuah alat penangkap alien *kebanyakan nonton Sponge Bob*. Itu alat buat mecahin batu, katanya suka ada warga yang kerja jadi pemecah batu di sini. Selain itu, mereka juga membuat dan membentuk beberapa batu menjadi sepasang alat pengaduk sambel. Kalo orang Sunda kenalnya coet dan mutu. Dan gue sampe sekarang gatau apakah ada itu bahasa Indonesia yang baik dan benarnya. 

Sudah satu jam setengah kita berjalan. Belum sampe juga. Jalan yang biasanya dilewati, ternyata ketutup total sama bebatuan yang longsor. Katanya sih itu udah mau sampe ait terjun sebenernya, cuma karena ketutup jadi lewat jalan lain. Dayat nunjukin kita jalan dengan melewati bukit kecil rimbun dengan pohon-pohon hutan. Pohon hutan khas Sumatera dengan lembab-lembab yang kecium bau khasnya sama gue.

Dari kejauhan, suara air terjun terdengar, tapi pepohonan masih banyak yang harus dilalui. Gue dan Baduy yang berjalan paling belakang video-videoan dulu. Hingga tiba saatnya, air terjun itu keliatan dari kejauhan. Hore...! Gue joget-joget, selebrasi lebai ketika tiba di tempat tujuan.

Hari ga lama lagi gelap, kita ga lama diam di situ. Foto-foto, basah-basahan dikit, kemudian kembali ke Paitua. Karena asli itu serem, men kalo gelap. Bukan takut sama yang hantu-hantuan, justru lebih ngeri lagi kalau diterkam harimau, atau dikejar beruang sirkus.

Kita berjalan kembali melalui jalan yang persis sama saat berangkat ke air terjun. Kembali melewati bukit kecil dengan hutan di dalamnya. Gue, Baduy, dan Fiersa orang yang jalan paling belakang. Saat lagi jalan, gue mendadak berhenti. Ada sesuatu yang menggelitik di jari kaki kiri gue. Gue memberhentikan langkah, senter gue arahin ke kaki.

Huwa !!! Seekor pacet nempel di kaki gue siap nyedot! Gue yang mencoba tenang segera memberi sentilan biar pacetnya lepas. Pacetnya lepas, tapi gatau larinya kemana. Mudah-mudahan ga kena yang lain. Jadi sugesti, tiap ada yang sesuatu menggelitik bagian tubuh, gue langsung suudzon sama pacet.

Ternyata kejadian pacet pertama itu juga jadi sugesti hampir buat semua. Baduy, yang ternyata kaga pake celana dalem, mulai khawatir dengan kondisi “sesuatu”-nya. Dia berhenti jalan, mau periksa “itu”-nya. Gue lihat dia melorotin celananya, untung ngebelakangin gue dan bajunya gombrang, jadi pantatnya pun ga keliatan sama gue. DIa coba ngecek bareng Fiersa. Ya iyalah masa bareng gue. Ini lebih horor dari pacet.

“Awas, Duy. “Pacet” maneh (kamu) disedot pacet. Haha!” gue ketawa ngakak.

Setelah Baduy ngecek “pacet”nya, kita berjalan lagi. Ternyata Uli, Winny, Rere, dan Dayat udah agak jauh dari jarak kita jalan. Tiba-tiba ada teriakan.

“Aaaa....!!!!!” seorang cewek berteriak kaya yang diperkosa.

Gue khawatir, itu suara siapa? Itu kenapa pula? itu teriakan seorang cewe? Wah, siapa itu? Diapain gelap-gelap gini? *langsung suudzon* Baduy mempercepat langkah, segera mengetahui yang terjadi sama yang lain di depan. Gue dan Fiersa masih di belakang. Sekarang Fiersa yang mulai ngerasa ada sesuatu di kakinya. Pacet yang lagi tegang, sedang nyedot enak aja darahnya dia.

“Prem, tolongin, Prem...”
“Idih, lepas aja itu.”
“Takut..takut..”
“Yeh...”

Ini cowo satu begimana, emang rada-rada. Gue coba cabut pacet dengan tangan, ga mau lepas. Gue mengambil daun kering di sekitar untuk membungkus pacet kemudian ngelepasin dia dari kaki Fiersa. Fiuh, lepas juga. Hii... geli geli gimana gitu.

Pacet sebenernya tanpa dipaksa bisa lepas sendiri. Ada banyak cara, ada yang katanya pake air tembakau, bisa juga pake lotion nyamuk, pake garem. Tapi dari itu semua, ga ada yang prepare satupun. Jadi terpaksa menggunakan keberanian mencabut paksa langsung si pacet dari kulit.

Setelah itu, gue dan Fiersa menyusul teman-teman di depan. Dan langsung cari tahu siapa tadi yang teriak. Ternyata Rere. Ada pacet di dadanya. Hem, pacetnya jantan nih. Tapi untung sudah ditolong sama Dayat yang katanya berusaha mencabut pacet dari dadanya. Nah, ini gue ga tahu kronologisnya begimana. Ngebayanginnya jadi ngelantur kemana aja. Haha. Untung si Dayat ga salah ambil “pacet” lain di balik bajunya Rere. Dayat, si lelaki beruntung. *LOL*

Gue masih ga ngerti kenapa di serang pacetnya sepulang dari air terjun. Apa iye pas lagi mandi-mandi gitu ya. Tapi kan si Baduy ama Fiersa kagak basah-basahan. Ah, berarti sekitaran air terjunnya itu lembab, kemudian komandan pacet langsung mengumumkan bahwa ada manusia siap sedot darah.

Kita melanjutkan perjalanan kembali ke Paitua. Sedikit mempercepat langkah tapi tetap hati-hati. Sampai di Paitua, ternyata masih ada pacet dong kebawa! Tiba-tiba ada di karpet sekre Paitua dan lagi nempel-nempel di tangan gue. Padahal gue udah mandi itu. Gatau itu pacet darimana datengnya. Gatau itu dia waktu kita jalan balik ke paitua, dia ngikut ama badan siapa. Halah. Seketika gue memberi sentilan lagi ke si pacet, dia lepas, dan sama anak Paitua si timpuk pake buku. Matilah pacet. Semoga tidak ada cerita “Dendam Nyi Pacet”.

Air Terjun buat gue adalah sekumpulan air yang jatuh dari ketinggian. Semua air terjun hampir sama. Ya gitu-gitu aja. Ada yang deras ada juga yang enggak. Ada yang bertingkat ada yang enggak. Ya intinya air terjun itu cuma air jatuh. Tapi kenapa gue mau pergi ke air terjun itu. Karena gue lebih tertarik dengan perjalanan di samping tujuan. Dan gue sangat menikmati setiap tawa dan setiap cerita yang dikeluarkan kawan-kawan jalan gue.

Kalau kalian sadar, gue ga banyak cerita ketika sampai di air terjun. Malah hampir ga ada.
Karena bersama mereka, perjalanan adalah tujuan gue.
Korban-korban pacet

Tim Eksekusi Mati Pacet

Postingan terkait:

Belum ada tanggapan untuk "Sumatera Barat Episode Air Terjun Ladang Uwak (Salam Selamat Tinggal dari Pacet)"