Sumatera Barat Episode Pantai Air Manis


Kamis, 18 April 2013 (Hari 5)

Touchdown Padang! Setelah kenyang menempuh perjalanan dari Bandar Lampung naik bus Lorena selama 3 hari 2 malem, sampailah gue, untuk pertama kalinya menginjak kota yang terkenal sama cerita Maling Kuda itu (Malin Kundang, Prem). Iya, Malin Kundang maksudnya.

Di pool bus Lorena di Jalan Soekarno Hatta Padang, gue menunggu seorang pemudi Padang yang gue dapat dari Couchsurfing yang siap disusahin. Namanya Uli. Karena nyampe Padang jam 04.00 WIB dan Uli belum bangun, maka gue dan dua kawan gue, Baduy dan Fiersa, tidur-tiduran di lantai ala gembel.

 “Halo... Anisa ya?”

Matahari mulai melirik, seorang perempuan berkerudung datang nyamperin gue. Kulit sawo matang, badan tidak terlalu tinggi, terlihat smart, agak polos, dan senyumnya yang merekah terpagar kawat gigi menunjukan kalo dia emang siap disusahin sama musafir-musafir macam kita. Hahaha!

Uli ga membawa kita ke rumahnya, dia bawa kita ke kosan Rere, teman Uli sekaligus pacar adiknya Uli ceritanye. Mengingat 3 hari 2 malem belum mandi, akhirnya mandilah gue di kosannya Rere. Sesuatu. Cakep.

Ternyata Uli juga kedatangan tamu selain kita bertiga. Ada bule yang mampir ke Padang dan minta ditemenin sama Uli. Menjelang siang, kosan Rere mendadak rame. Ada gue, Baduy, Fiersa, Uli, Rere, Anisa (adiknya Rere), Winny, dan Chris. Winny adalah teman satu kampus Uli, beda jurusan tapi. Mereka dua emang partner-an untuk masalah jadi host di Padang. Sedangkan Chris adalah seorang bule California yang lagi mampir ke Padang. Entah kenapa, tangan gue gatel waktu liat brewok dan kumisnya dia. Pengen garuk-garuk brewoknya. Rasanya pengen nyukur abis sampe bulu-bulu idungnya. Semoga kalo gue ketemu dia lagi, dia udah cukuran.

Gue, Baduy, dan Fiersa memilih untuk ke Pantai Air Manis untuk menghabiskan sisa hari itu. Pantai itu termasuk deket kalo dari kosan Rere. Tapi Uli ga bisa nganter kita, karena ada perlu, jadi Uli cuma ngasih tau arah jalan dan transport menuju ke Pantai Air Manis. Sebelum ke sana, kita ikut nganter Chris ke pool bus ALS di Soekarno Hatta sampe bus yang bawa dia berangkat dan menghilang dalam pandangan.

Uli dengan Winny dan kita bertiga berpisah. Uli dan Winny yang udah naik angkot duluan ke arah yang berlawanan pun pergi. Kita bertiga, mencoba peruntungan hitching untuk sampe ke Pantai Air Manis. Mobil pick up banyak yang lewat, tapi kebanyakan udah pada ngangkut beban. Bebannya udah banyak, mana mungkin mau ngangkut kita bertiga. Berat beban kita bertiga itu lebih berat dari bawa semen 1000 karung. Karena kita adalah petualang rese. Haha.

Baduy dan Fiersa berjalan duluan depan gue. Gue yang masih clingak clinguk ke belakang siapa tahu ada pick up kosong dan sudi ngangkut kita. Alhasil, beberapa menit kemudian, lambaian tangan kiri gue dan sedikit sentuhan paha kiri mulus gue pun membuat sebuah mobil pick up menyisi. Supirnya bapak tua dengan kumis manisnya, sedikit uban. Tanpa barang di belakang mobilnya. Kosong.

“Pak, boleh numpang sampe Simpang Tiga?”
“Mau kemana kamu?”
“Pantai Air Manis, Pak. Katanya lewat Simpang Tiga dulu ya?”
“Iya. Tapi saya ga sampe Simpang Tiga. Tapi masih searah.”
“Ya, udah, Pak. Ga apa-apa.”

Baduy dan Fiersa yang udah jalan agak jauh dari gue, gue teriakin. Mereka agak berlari ketika gue teriak sambil buka pintu depan, karena gue pengen duduk di depan bareng si bapak sekalian ngobrol, sedangkan mereka duduk di belakang bersama si ukulele.


Si bapak (yang gue lupa namanya, anjrit merasa dosa gue lupa namanya) kerja nganter-nganterin barang di sebuah pabrik dengan mobil pick up pribadinya yang dengan ikhlasnya beliau kasih tumpang buat kita. Gue bertanya-tanya tentang sedikit kehidupannya. Tapi sayang, karena cuma sebentar, jadi ga banyak yang gue obrolin sama beliau.

“Maaf, ya cuma sampe sini. Bapak soalnya ada perlu di sini. Nanti kamu lanjut bisa pake umum atau numpang lagi. Banyak kok mobil pick up lewat.”
“Oke, pak. Ga apa-apa. Makasih banyak banget.”

Kita diturunkan di depan gerbang pabrik tempat si bapak sering anterin barang. Kita bertiga melanjutkan berjalan kaki, lagi-lagi peruntungan. Mobil satu, lewat. Guenya lupa lambai tangan. Mobil dua, lewat. Mobil pick up nya bawa banyak barang. Mana dia ada tiga orang duduk di depan. Pasti ga akan ngasih. Mobil tiga, lewat. Supirnya pura-pura ga liat padahal gue udah heboh sampe dandan dan goyang itik. Mungkin karena terlalu heboh, disangkain orang gila. Gue mengistirahatkan pandangan melihat ke belakang.

“Tin..tin..” klakson ceritanya.
“De, ayo naik lagi.”suara seorang tua yang masih gue inget meskipun baru gue kenal belum 1 jam.
“Eh, boleh, pak? Sampai Simpang Tiga. Lah, katanya ada perlu.”
“Udah ayo naik dulu.”

Kita bertiga naik lagi. Girang. Gue nyengir.

“Ga jadi perlunya. Orangnya ga ada. Tadinya saya mau ketemu orang, tapi dianya ga ada. Jadi saya pergi lagi aja daripada nungguin ga jelas dianya.”
“Oh, gitu...”
“Masih mau ke Pantai Air Manis?”
“Iya, masih, pak.”
“Ya udah kebetulan saya mau putar arah, jadi saya bisa antar sampai belokan ke arah pantainya. Nanti kamu di sana bisa naik ojeg aja. Ga apa apa ya ga sampai pantai?”
“Eh, pak. Aduh makasih banget. Segini juga udah alhamdulillah. Hehe. Makasih, Pak. Makasih.”


Kita bertiga diturunkan di pertigaan yang ada jalan menuju Air Manis. Meskipun muka si Bapak sekarang udah samar-samar dalam bayangan gue, tapi kebaikannya ga akan pernah gue lupakan sampe kebo beraknya emas!

Dengan segala kebimbangan, kita lanjut naik ojeg karena hampir ga ada mobil lewat menuju Pantai Air Manis. Sedangkan waktu udah makin sore. Kita takut saat matahari terbenam, orang-orang tahu siapa kita sebenarnya, serigala pemangsa sayur dan buah-buahan sehat.

Berkat jasa tukang ojeg dan sedikit mengocek isi dompet, sampailah kita di pantai pertama dalam perjalanan Sang Saka ini. Pantai pertama, destinasi wisata pertama! Dan akan menjadi pertunjukan senja pertama dan kibar Sang Saka pertama di sini. Catet, men! Catet!!
Perjalanan dari gerbang jalan menuju pantai emang berkelok-kelok dan banyak nanjak, tapi beberapa pemandangan keren membuat gue meminta si tukang ojeg untuk memberhentikan motor biar gue bisa ambil gambarnya.


Sampailah kita di tempat tujuan. Sebenernya ini tujuan dadakan buat kita, karena memang ga ada rencana mau ke sini, cuma karena untuk menghabiskan waktu hari ini, maka kita main aja ke tempat yang deket-deket. Buat gue atau untuk beberapa manusia pecinta pantai, Pantai Air Manis biasa aja, tapi yang terkenal memang bukan pantainya. Malin Kundang yang membatu dan semua peralatan berlayarnya yang juga membatu ada di situ. Gue juga ga tau pasti apakah itu betul-betul Malin Kundang yang menurut cerita dikutuk Sang Bundo, atau cuma ukiran tangan manusia belaka.



Karena yang namanya batu ya gitu-gitu aja. Ga bisa diajak ngobrol juga kan. Tadinya mau gue wawancara itu batu si Malin. Tapi karena dia membatu dan dikutuk Bundo, jadi gue ga bisa ngobrol sama dia, mungkin padahal dia mau curhat itu.

Sambil menunggu senja Minang, Gue dan Baduy yang cenderung ga bisa diem di tempat, melakukan aksi-aksi. Kita berjalan ke sebuah arah dimana ada pohon-pohon berjejer. Ada pohon yang saling berhadapan, Baduy mengikat tali webing di keduanya, dan kita bergila ria.



Langit mulai menjingga, kita bertiga mulai berjalan ke arah pantai yang bisa kita lihat jelas matahari terbenam. Super keren. Menutup siang hari ini, ita bertiga foto narsis dong yah kali-kali. Biasa kaya anak-anak gaol, selalu ada foto siluet dan senja di pantai. Tapi, biar ga bosen dengan foto siluet bersenja, maka kita ganti gaya kita. Gaya petualang suka-suka. Terserah kita...!! Pikirin sendiri deh gaya apaan ini. Kita juga ga ngerti.

Matahari pamit pada Indonesia bagian barat Sumatra, begitupun kita bertiga, pamit dari Air Manis. Terima kasih pada jingga yang setia di setiap petang, pada udara yang menyapa lembut pipi-pipi kelelahan, dan pada gelombang yang menerpa butir-butir alas abunya.


Eits! Ga berenti sampe di sini! Haha, sepulang dari pantai dengan ojeg yang sama yang udah janji mau jemput kita balik sampe gerbang, kita pun laper atulah. Jadi, kita cari makan. Dari pertigaan tempat kita naik dan turun ojeg, kita jalan menyusuri ke arah Simpang Tigo. Banyak warung sepanjang jalan, kita jalan pelan, siapa tahu ada yang murah. Liat kanan kiri, clingak clinguk. Kebanyakan ya warung-warung masakan Padang.

NASI GORENG RP 6.000,-
KUPAT TAHU RP 4.000,-

Tulisan yang nempel di kaca gerobak itu bikin hati sumringah. Nemu! Kita masuk ke warung makan itu. Menarik. Harganya yang menarik! Apakah makanannnya menarik juga? Ternyata...! Menarik banyak juga....! Kenyang! Gila, men. Ini adalah kebahagiaan ala kita. Menemukan makan murah di Padang, meskipun bukan asli masakan Padang! Biarin. Yang penting dompet ga sakit-sakit amat.

Setelah kenyang huh. Kita kembali ke kosan Rere dengan kembali hitching. Kita kembali menyusuri jalan ke arah Simpang Tiga. Dari jauh gue melihat ada mobil pick up. Mendekat, dan keliatan ada supirnya. Gue langsung bertanya, meskipun agak mengejutkan. Karena tiba-tiba.

“Misi, bang... Bang, mau jalan ke arah Simpang Tigo?”
“Iya, mau kemana?”
“Mau ke jalan Soekarno Hatta sih, Bang.”
“Ga apa-apa, saya mau kesana.”
“Ga apa-apa, Bang? Makasih. Saya naik di belakang ya?”

Gue pun segera naik ke bak. Ga di depan, karena di depan penuh dengan abang yang lain. Mobil pun jalan, agak ngebut. Haha, biarin, Enjoi. Terima kasih kepada abang baik hati tukang ngebut udah nganter kita. Semoga punya istri banyak! Eh, anak banyak!


Sumatera Barat Episode Pantai Air Mania. Tamat :|

Postingan terkait:

Belum ada tanggapan untuk "Sumatera Barat Episode Pantai Air Manis"