Terselatan di Sulawesi Selatan (Bagian 1) - Jeneiya

Tebak! Apa yang terselatan di Sulawesi Selatan!!?
Bulukumba?
Selatan sih. Tapi bukan... Masih jauh dari yang paling selatan!
Tanjung Bira?
Belum seberapa itu mah.
Selayar?
Iya! Iya! Bisa jadi! Bisa jadi! Dikit lagi dikit lagi !!! *korban kuis*
Toraja?!
Kenapa malah ngejauh, dodol :|
Apaan dong?!

Baiklah, sebenernya udah kejawab sih itu Selayar. Oke, gue beri nyaho yang sesungguhnya bahwa Selayar adalah kabupaten terselatan di Sulawesi Selatan. Dan di sini gue akan bercerita tentang perjalanan gue bersama dua petualang gondrong, Si Gigi Gondrong dan Si Muke Gondrong di yang terselatan dari Sulawesi Selatan ini. Eng ing eng..! Anjrit! Akhirnya setelah sekian lama gue baru sempet lagi nulis di blog *terisak* *kemudian keselek dahak* *enak*


Oke, kita start dari Makassar. Menuju Takabonerate ala kita bertiga adalah melalui darat. Yang gue suka dari perjalanan darat karena selalu ada aja pemandangan oke di jalan atau ada kejadian-kejadian yang ga diduga, dan yang pasti enaknya bisa tidur lebih lama sih di perjalanan. Haha. 

Jumat, 31 Mei 2013 (Hari 48 Sang Saka)

Makassar - Kota Benteng (Selayar)

Dari Kota Daeng Makassar, gue naik dari terminal Malengkeri. Inget! Bukan Mariah Carey!!! Di sana banyak bus yang bakal anter lu ke Selayar, mulai dari yang ekonomi ga ada kursi, panas seheboh Gurun Sahara sampe yang AC sedingin Antartika. Nah, waktu itu gue naik bus ekonomi tapi AC seharga Rp 80.000,- ,dapet nawar si Baduy dari harga Rp 100.000,- biasa liatin paha dikit alhasil turun harga. Harga diri maksudnya. Lumayan lah Rp 20.000,- bagi petualang kaya kita bertiga 20 rebu serasa 20 juta! Bisa disisihin buat nabung alphard. Eits, tapi inget yah, ini harga BBM masih belum naik.


Naik bus ke Selayar, kita ga harus repot lagi ngantri untuk tiket kapal fery yang nyebrang ke Selayar. Karena harga tiket bus itu udah termasuk tiket ferry, jadi si bus bener-bener nganterin kita dari Makassar sampe tiba di Selayar, tepatnya sampe Terminal Selayar.


Untuk rute dari Makassar sampe Tinabo, gue kasih sedikit visual oke. Peta ala @premous akan sedikit berbicara .


Nah, tuh kebayang kan dikit ya? Jadi si bus dari Makassar itu akan naik nanti ke ferry dari Pelabuhan Bira dan pas sampe di Pel. Pamatata akan lanjut dengan bus yang sama, kemudian titik akhir penumpang turun di Selayar adalah di Terminal Selayar. Nah tujuan gue waktu itu adalah ke Kota Benteng. Dari Terminal Selayar ke Kota Benteng akan ada angkutan khusus yang akan anter kamu ke Benteng sekitar 15 menitan, ga perlu bayar, karena ternyata itu termasuk fasilitas bus. 
Makassar - Benteng (Selayar) - Tinabo Besar (Takabonerate)
Ketika sampe di Benteng, kita diantar ke TDC (Tinabo Dive Center), di situ kita bisa nginep. Kita dapet semalemnya Rp 200.000,- untuk bertiga. Haha. Harusnya sih ga boleh. Berhubung kita memelas, menangis, isek-isekan sampe ingus keluar, akhirnya kita dikasih sama Om Hendra, yang punya lapak TDC ceritanya. Sumpah baik banget om Hendra. Pokoknya satu Selayar kaga ada yang ga tahu sama Om Hendra inih! Nah, kalo lu-lu ada yang mau ke Selayar terus bingung mau ke tempat mana aja, bisa kontak Om Hendra di 081241948948. Semoga nomernya masih aktif. Masih aktif sih, terakhir gue nelpon operatornya bilang "Maaf, nomor yang anda hubungi sedang enak." Oh, ya mungkin memang sedang pada posisi yang sedang tidak bisa diganggu :|

Di TDC gue menemukan orang Sunda yang terdampar di Selayar. Asli orang Tasik, namanya Kang Iwan. Udah cukup bertahun juga dia di Selayar, ada tuh 3 tahunan kalo ga salah. Lupa gue. Dia orang yang kerja di Om Hendra, bagian meja depan TDC. Ga nyangka juga nemu orang Sunda di pulau begini. Gue pikir orang Sunda ga ada perantau kaya dia. Akhirnya gue nyunda lagi. Kangen ngobrol basa Sunda!

Sedikit berbincang sama Om Hendra, kita dapet info bahwa akan ada rombongan yang bakal nyebrang ke Takabonerate, tepatnya P. Tinabo. Jadi ada yang open trip kesana dan itu nyebrang tanggal 3 Juni. Untuk memastikan apakah kita akan nebeng rombongan itu atau tidak, Baduy dan gue sempet berkeliaran malem-malem jalan ke pelabuhan sekitaran Benteng untuk cari tahu apa ada kapal warga yang mau nyebrang ke Takabonerate. Dan ternyata nihil. Dan kita pikir kita akan ada ikut nebeng sama kapal rombongan itu. Meskipun belum tentu diijinin ikut kapal mereka, akhirnya kita memutuskan untuk mampir dulu semalem ke Jeneiya. Dijinin ato enggak nantinya nebeng kapal ke Tinabo, gimana ntar dah. Jeneiya dulu ajah!

Nah, Jeneiya ini salah satu pantai di Selayar yang oke punya. Kebanyakan pendatang/pengunjung yang mau ke sana biasa naik kapal, karena lebih cepet. Nah, berhubung kita adalah petualang suka-suka, jadi kita menuju ke sana dengan cara kita sendiri. (padahal mah ga ada duit buat charter perahunya :p)

Sabtu, 1 Juni 2013 (Hari 49 Sang Saka)

Kota Benteng - Jeneiya


Dari Benteng kita naek angkot ke Pelabuhan Padang Rp 5.000,- / orang. Dari Pelabuhan Padang, kita naik kapalnya Bang Densi, seorang lokal yang diperkenalkan sama ibu-ibu pegawai yang kerja di Dinas Pariwisata. Ongkos kapal Rp 3.000,- perak aja, deket 15 menitan doang. Di kapal, kita ketemu dengan Bu Andi Jami, seorang warga desa Kahu-kahu, desa yang harus kita lewati untuk menuju Jeneiya. 
Pelabuhan Padang, Selayar
Kapal Menuju Desa Kahu-kahu
Desa Kahu-kahu adalah desa yang listriknya pake diesel. Nah si Bu Andi ini adalah satu-satunya pemilik diesel di desa itu. Dia termasuk orang berada di antara warga desa. Orangnya baik banget, kita diajak istirahat di warungnya sebelum lanjut ke Jeneiya.

Setelah cukup istirahat, kita pamit ke Bu Andi. Dan bakal mampir lagi sebelum nyebrang lagi nanti dari Kahu-kahu. Dari rumah Bu Andi, kita kudu naek ojeg Rp 5.000,- / orang. Kita akan melewati kebun-kebun dan hutan menuju Jeneiya. Ya, sepenuhnya kebun, hijau, lalu.... pantai. Cakep! 

Welcome to Jeneiya, men....!!!
Jeneiya (Taken by : @baduypacker)
 Jeneiya pantai asik untuk yang ga suka berisik. Lebih asik lagi kalo nongkrong di tebing ujung situ tuh. Nah iya yang itu tuh. Yang ujung! Nih liat jari gue ih. Haha. Itu ada tebing kan? Nah, itu tebing kita nyebutnya tebing sinyal. Karena di situ tempat satu-satunya yang paling lancar sinyalnya. Jadi kalo nelepon, kudu kesono biar lancar jaya. Gile yak. Edyan emang :|

Di Jeneiya kita nginep di sanak familinya Bu Andi, tepat di pantai Jeneiya. Keluarga baik yang mau nerima kita. Itu rumah sederhana aja. cuma ada satu ruang yang agak luas yang dipake buat dapur. Untuk tidur, mereka pake teras. Semuanya tidur bareng di situ. Mereka batasi pake sekat kalau udah malem hari biar ga keanginan, jadi tidur pun anget. 

Ternyata tak disangka, pantai sehening itu men, siang hari full music !!! Jadi gini, kebiasaan mereka kalau siang hari adalah memainkan musik pake DVD dengan 4 speaker yang distel volumenya kenceng banget sumpah! Dan lagu-lagunya adalah lagu dangdut remix yang di remix lagi, kemudian di remix lagi.... udah ga jelas dangdutnyah :| 


Gile... Lagian siapa juga yang mau marahin mereka, orang sepi penduduk gitu. Malah asik-asik aja mereka karena ada musik. Gue mao protes takut di depak dari pantai, dibunuh, dimutilasi, dikarungin, kemudian dibuang ke laut

Baiklah ... karena masih cukup terang dan belum terlalu sore pada hari itu, gue dan Baduy memutuskan untuk nge-track mencari Leang Kareta, pantai sebelah Jeneiya yang masih misterius posisinya dimana. Sedangkan Fiersa yang seperti biasa menikmati saja pantai Jeneiya dengan sepoi anginnya, biasanya pacaran sama Canon-nya. Gue dan Baduy mulai menyusuri pantai. 

Leang Kareta...
Kalo di-bahasa sunda-in itu artinya lubang (liang) kereta. Oh mungkin dulu ada kereta bawah laut *analisa asal*. Oke, karena sangat misterius, maka Detektif Premous dan Detektif Baduy harus memecahkan misteri ini. Jeng..jeng...jeng...! Detektif yang mencari LUBANG !!!

Untuk cari Leang Kareta, kita harus jalan dulu ke tebing karena di balik tebing itu ada pantai lainnya yang sama kerennya. Dan gue lupa namanya, karena saking banyaknya nama pantai perawan dan tak berpenghuni.
Pantai Sebelah Jeneiya (lupa namanya, hehe)
Karena masih penasaran dengan si Leang Kareta, kita terus berjalan. Di ujung pantai ga ada jalan, tapi ada jalan lain yang mengharuskan kita menembus kebun dan hutan. 
Baduy The Explorer!
 Udah setengah jam jalan, belum nemu juga. Nemu bapak-bapak lagi galau macul, ditanya dimana Leang Kareta, eh jawabnya, " Di situ, di sana.... ke sana lagi..." Buset dah, ngebingungin! Garuk kepala! Tapi karena hari mulai agak gelap dan kita ragu untuk cepat sampai ke Leang Kareta, kita memutuskan kembali berjalan ke arah Jeneiya. Ha, sore ini kita gagal mencari lubang. Ah, ternyata Baduy belum gesit mencari lubang.

Karena galau, gue memanggil He-Man, gue curhat :(
Gue : "He Man... He Man... kenapa gue susah mencari lubang..."
He Man : "Karena kamu perempuan..." *kemudian ngilang* 

Curhat sama He Man (Edited by : Rida)
Kita balik ke Jeneiya. Eits, tapi waktu petang ga kita lewati gitu aja. Di tengah pertunjukan senja, kita berhenti dulu. Nongkrong di tebing sinyal sampe bintang-bintang pun menyapa para manusia. 

Damn! Thank God I Was There!
Pertunjukan Bintang di Jeneiya (taken by : @baduypacker)
Malam hari di Jeneiya menurut gue asik. Berasa pantai milik sendiri, sungguh privasi. Tanpa usik, berisik, cuma angin-angin yang sesekali menggigit. Itupun gue nikmati tanpa peduli. Makan malam bareng keluarga Bu Andi Jami yang untuk kesekian kalinya gue berbaur dengan warga lokal, makan bareng dengan menu yang sederhana bersama manusia-manusia yang jauh lebih pinter bersyukur daripada gue, bahagia dengan apa yang ada.

Minggu, 2 Juni 2013 (Hari 50 Sang Saka)

Sehari sebelum melepas Jeneiya, gue dan Baduy masih penasaran dengan pencarian Leang Kareta gegara kemarin sore belum nemu sampe jidat mengkilat! Haha, karena masih dilanda rasa gundah gulana dan dihantui Leang Kareta, maka kita berdua ber-sampan ria ke pantai sebelah sampe nemu si misterius Leang Kareta. 

Kita dipinjemin sampan punya familinya Bu Andi. Haha, asik sampan time dulu sambil nyelem-nyelem dikit. Gue dan Baduy gantian ngedayung. Gue ngedayung, dia nyelem, gue mengawasi dia, begitu juga sebaliknya. Setelah sadar bahwa matahari bakal mulai lebih tinggi, akhirnya kita melanjurkan pendayungan ke pantai sebelah, sebelahnya lagi, sebelahnya lagi, lalu sebelahnya sebelah lagi, dan akhirnya!!! Kita kecapean dan Leang Kareta belum ditemukan :|

Anjrit! Ini mana pula sik! Huwa..... cape, pegel, matahari udah naik banget, panasnye men, bikin gue seketika eksotik seperti Farah Queen, tapi cuma tangan doang. Ha.... karena lelah gua dan Baduy istirahat dulu sejenak di pantai yang tidak diketahui namanya. Berasa film Cast Away gini terdampar, untungnya yang bareng gue bukan bola voli Wilson kaya di felem.


Matahari nyengat banget! Karena kita berdua sudah busung lapar, keroncongan ga karuan, akhirnya menyerah lah kita untuk menemukan Leang Kareta. Hah, maka kembalilah kita ke Jeneiya. Hiks, Leang Kareta... PENCARIAN LEANG : MISSION FAILED !!! :(

Siang, sore, dan petang di Jeneiya gue habiskan detik-detiknya saat itu, karena jam 9 malem WITA, kita bermalam di rumah Bu Andi Jami dan subuhnya nyebrang balik ke Pel. Padang, lanjut ke Pel. Patumbukan, dan nyebrang ke Takabonerate.

Yes! We are lucky! 
Kita dapet kapal rombongan open trip yang ke P. Tinabo yang ngebolehin kita nebeng!
Keluarga Bu Andi Jami - Jeneiya
Thank you, Jeneiya.
Terima kasih untuk sunyinya yang ramai.
See you!

Postingan terkait:

2 Tanggapan untuk "Terselatan di Sulawesi Selatan (Bagian 1) - Jeneiya"

korep mengatakan...

Tebak! Apa yang terselatan di Jawa Timur?

hehehe, salam...
blognya semakin ajib,

korep mengatakan...

Tebak! Apa yang terselatan di Jawa Timur?

hehehe, salam...
blognya semakin ajib,