Terselatan di Sulawesi Selatan (Bagian 2) - Karang Di Atas Pasir

Cerita sebelumnya --- Terselatan di Sulawesi Selatan (Jeneiya) 

Yes! We are lucky! 
Kita dapet kapal rombongan open trip yang ke P. Tinabo yang ngebolehin kita nebeng!


 *** 

Gue perkenalkan. Karang di atas pasir. Yang dalam bahasa Bugis berarti Takabonerate. Silakan googling dengan keyword “Takabonerate” dan lu akan mendapat banyak link mengenai Takabonerate dari bahasa Indonesia sampa bahasa Inggris. Tapi kalo lu makhluk dari planet di galaksi sebelah, ga tersedia bahasa alien. Sebenernya mendingan googling sih daripada baca blog gue :|

Takabonerate adalah bagian dari Selayar karena Takabonerate sebenarnya adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Selayar. Dan di sinilah salah satu tempat gue dan dua sobat gue meninggalkan jejak petualangan di terselatan dari Sulawesi Selatan. Gilak, ga nyangka aja gue berada di sebuah wilayah dimana karang atolnya diakui dunia sebagai karang atol terbesar ketiga dunia! 

Karena Takabonerate itu terdiri dari 21 pulau, dan kalo ga salah cuma 7 pulau yang dihuni penduduk suku Bajo, Bugis, dll. Ga mungkin kan gue jelajahi semua dalam waktu sesingkat ini. Betapa kecilnya gue. *tobat* *insaf* *berkerudung* *lima menit lepas lagi*
Sehabis pelangi

Senin, 3 Juli 2013 (Hari 51 Petualangan Sang Saka)

Untuk nyebrang ke Takabonerate dari Selayar itu ga gampang, sama susahnya kayak nyebrang ke hati yang lain *tsah*. Waktu itu, dari Selayar ga tersedia kapal reguler ke Takabonerate, kecuali bisa aja kalo nebeng kapal warga. Tapi itupun ga setiap hari dan lu harus rajin cari warga yang mau nyebrang ke Takabonerate, kalaupun dapet kapal warga, belum tentu nyebrangnya ke pulau tujuan lu.

Karena waktu itu kita habis bermalam di Jeneiya di rumah Ibu Andi Jami, jadi pagi-pagi kita bertiga berangkat dari Pelabuhan Padang (sekitar 15 menit dari Kota Benteng) menuju Pelabuhan Patumbukan untuk janjian dengan rombongan tripnya Intan. Sekitar 1,5 sampai 2 jam naik mobil untuk sampe Patumbukan. Waktu itu gue bertiga charter angkot sekitar Rp 250.000,- Hiks mahal banget. Tapi wajar sih soalnya kehitung jauh dan jalannya juga ga semua bagus, malah ada yang ancur parah juga :( Mahalnya ini mah karena dibagi tiga charter angkotnya :))

Sesampainya di Pel.Patumbukan, gue melihat kapal ferry sandar di sana. Gue kira ini ferry bisa buat nyebrang ke Pulau Tinabo, ternyata bukan. Itu kapal ferry rute dari Selayar ke Komodo. Waw! Bisa jadi plan gue selanjutnya nih ke Komodo tapi mampir Selayar dulu.

Baduy jalan ke dermaga, nyari kapal yang udah dicharter sama Intan. Didapatlah sebuah kapal kapasitas kurang lebih 10 orang dengan kapten Pak H.Anwar, kapten yang bakal direpotin sama penumpang gelap kaya kita bertiga. Ngahahaha!

Jam 09.00 WIBS (Waktu Indonesia Bagian Selayar) datanglah rombongan trip Intan. Ada dua mobil yang nganterin mereka dari Benteng ke Patumbukan. Mereka berjalan menuju kapal, siap-siap masukin barang. Kita ngikut di belakang mereka. Gue memperhatikan peserta trip Intan satu-satu. Ada dua orang dari mereka yang stelannya anak gunung, satu cewe satu cowok. Sisanya stelan anak pantai dengan pakaian yang lebih minim, celana pendek dan kaos lengan pendek.

Tetiba pandangan gue lebih lama ke arah seorang cewe yang gue liat. Karena gue merasa ngeh dan tahu sama cewe ini. Rambutnya pendek, kulitnya sawo mateng banget. Kalo buah dia tuh kayak telat dipetik. Jadinya mateng banget. Gue kaya yang pernah liat dia. Tapi dimana gitu. Sok-sok kenal gini gue. Haha. Tapi mukanya emang ga asing buat gue. Gue masih mikir hal ini sampe akhirnya semua orang udah masuk kapal, barang-barang udah disimpen, dan kapalpun berlayar.

Perjalanan Patumbukan – Tinabo sekitar 4 jam. Gue dan beberapa peserta duduk di dek atas, sisanya di dalem kapal bareng kapten. Awal pelayaran, gue kenalan dengan peserta tripnya Intan. Ada dua orang cewe yang namanya mirip, Grace dan Gracia, mereka ternyata temen satu sekolahan dulu. Kemudian ada dua orang yang gue sebutin tadi dengan stelan cenderung anak gunung, mereka adalah Nurul dan Heri. Dan di sinilah gue bertemu dengan orang Bandung lagi! Iya, mereka berdua anak ITB. Nurul masih kuliah sedangkan Heri udah kerja. Dan yang lebih gila lagi!! Ternyata Heri ini satu SMP sama gue. Pernah satu kelas waktu pemantapan kelas 3, tapi gue ga ngeh boro-boro kenal sama murid kelas eksklusif. Karna dia mah ikut kelas akselerasi, jadi sekolahnya 2 taun doang. Masuk SMP di bawah gue, tapi lulus SMP bareng. Dunia memang sempit bagi yang suka bepergian.

Seorang peserta cowo, om-om dengan pala botaknya, ternyata kenal sama Baduy. Mereka pernah ketemu di Raja Ampat waktu Baduy lagi berkelana sendirian ke sana. Waktu itu si Baduy sedang berjodoh sama si om ini, namanya Bosky.

Dan gue akhirnya berkenalan dengan cewe rambut pendek dengan kulit sawo matengnya banget yang gue ceritain di atas tadi.

“Vindhya...” dia ngenalin namanya.
“Anisa...” kita berjabat tangan.
“Eh, Bandung Freediving ya?” dia nanya, kebeneran gue saat itu lagi pake kaos Bandung Freediving.
“Iya, Vin.... ” kata gue.
“Iya, gue juga punya tuh temen di situ...”
“Siapa...?”
“Wira...”

Sebenernya ada dua Wira di Bandung Freediving, tapi gue tahu maksud Vindhya itu Wira yang mana. Tanda tanya besar gue pun menghilang. Mata gue terbelalak, mulut menganga, keluar busa, badan kejang-kejang, susah buang air besar. Seketika pikiran gue melayang pada sebuah video karya tim Wakatobi dari Indonesia Travellers. Mereka adalah empat orang yang berangkat untuk eksplor Wakatobi dan mendokumentasikannya menjadi blog dan video. Dua dari empat orang itu adalah Wira dan Vindhya. Ya, yang bikin muka Vindhya familiar adalah, gue pernah baca blognya Wira tentang tim Wakatobi-nya yang lagi eksplor Wakatobi. Di blognya ada foto Vindhya. Gue inget, karena dia cewe satu-satunya di tim itu. Iya, gue inget. Alhamdulillah mata gue udah ga terbelalak, mulut udah mingkem, badan normal kembali dan buang air besar lancar.

Waktu menunjukan pukul 13.00 Waktu Indonesia Bagian Jam Tangan Gue (WIBJTG). Udah 3 jam perjalanan menuju Tinabo. Masih sekitar 1 jam lagi. Dari jauh, memang udah keliatan beberapa pulau. Jauh di depan sana, itu Tinabo katanya. Sedangkan ada juga jauh di kanan kiri kapal, ada pulau-pulau kecil yang gue lupa namanya, banyak men. Dari jauh juga keliatan langit di atas Tinabo agak abu. Mungkin sedang mendung. Ombak mulai besar, terkadang kapal sangat keras menghempas ombak, kapal bergoyang kencang. Angin mau hujan juga mulai berhembus. Setengah jam sebelum sampe di Tinabo, kita kena hujan. Lumayan deras.

Pasir putih Tinabo udah ga susah untuk dilihat. Sampailah kita. Belum juga kapal bersandar, kita udah disambut sama hiu blacktip yang mungil. Ya ampun, so sweet banget alam ini. Hujan masih sedikit mengguyur. Kita sebagian penumpang kapal masih nunggu di dermaga untuk berteduh, karena jalan dermaga ke pulau agak panjang dan ga beratap. Dan lu tau apa yang terjadi setelah hujan reda? Damn! Selain disambut ikan hiu black tip tadi, kita semua disambut sama pelangi Tinabo! Pelanginya ga satu, tapi dua! Ah, pelangi pulau selalu begini... :')
Satu pelangi lagi harus diperhatikan seksama
"Welcome, human..."
Anjrit! Segini kerennya alam sama manusia. Tapi terkadang kita seenaknya menikmati mereka tanpa mau menjaga. Semoga Tuhan memaafkan. Maafkan Baim, Ya Alloh... *korban sinetron*

Sementara yang lain mulai jalan menuju pulau, gue masih di dermaga sampe pelanginya bener-bener ilang. Sesekali gue memandang ke bawah laut. Bengong. Airnya jernih. Ikan-ikan, karang-karang, sampe beberapa hiu blacktip lainnya lalu lalang dalam penglihatan gue. Cakep.

Pelanginya udah ilang, gue mengambil barang-barang dan berjalan meninggalkan dermaga. Sementara peserta tripnya Intan di Tinabo Resort, kita bertiga nyari tempat untuk mendirikan tenda yang kita bawa. Biar tendanya ga digusur setelah didirikan, kita tanya dulu sama orang-orang yang tinggal di Tinabo. Ijin dulu, ngobrol dulu sama yang punya lapak. Haha.

Gue bertemu dengan  Kang Mirwan. Dia adiknya Kang Iwan yang jaga di TDC. Kang Mirwan ini udah nikah, dapet jodoh orang Jampea (sebuah pulau berpenghuni di kawasan Takabonerate). Maka menetaplah mereka di sana bareng sama ayahnya Kang Mirwan juga.

Dan kitapun mendirikan tenda di samping bangunan dapur. Dapur itu ada di samping bangunan Tinabo Resort. Meskipun udah diriin tenda, tetep aja nangkringnya di resort. Haha, nebeng nongkrong sama peserta tripnya si Intan. Hehe. Jadi itu tenda buat nyimpen barang dan peramai suasana Tinabo aja gitu.

Di Tinabo ga banyak bangunan. Mungkin belum banyak bangunan kali ya. Waktu gue bulan Juni 2013 ke sana cuma ada kantor Taman Nasional Takabonerate (TNT), satu penginapan (Tinabo Resort), bangunan untuk dapur, bangunan warung (dan cuma ada satu warung di sini), dan sebenernya ada sih beberapa rumah mungkin 3 sampai 5 bangunan. Tapi bukan rumah penduduk. Itu semacam rumah dinas untuk petugas atau orang-orang yang kerja di TNT. Itupun jarang orang. Selebihnya adalah pasir dan kebun kelapa juga rumput-rumput yang bergoyang. Dan lalat! Di Tinabo banyak banget lalat!!

Sore harinya, anak-anak pada nyebur ke laut depan dermaga. Cukup banyak ternyata hiu blacktip yang berkeliaran di area dermaga. Kita bisa lihat dari kejauhan, mereka tahu ada keberadaan kita di bawah air. Gue suka nyemplung di depan dermaga situ, karena jarak antar terumbunya rapet. Ikan banyak nyelap nyelip di sela-sela terumbu, main kejar-kejaran satu sama lain. Sebuah kebahagiaan biota laut. Seneng liatnya bener-bener taman laut. Ah, udah lah. Bingung jelasinnya harus liat sendiri ini mah.

Apalagi yang bisa gue ceritakan tentang Tinabo? 

Oke, Tinabo adalah pulau kecil yang bisa meninggalkan bekas yang mendalam. Cieh, kaya diputusin pacar aja bekasnya dalem. Ya, serius. Pulau mini dengan pasir putih kaya bedak bayi, dan airnya yang jernih bakal bikin kamu ga bisa lupa sama Tinabo dan akan bikin kamu pengen banget balik lagi kesini! Tinabo itu cocok banget jadi private island. Terpencil, sunyi, kebisingan yang enak didenger : desir angin, tarian daun kelapa yang berisik. Di sini ga susah kamu mau cari sunset atau sunrise, karena keduanya bisa kamu temukan di spot yang sama. Tinabo, biar pulau terpencil dan sepi, tiap sorenya para pegawai TNT biasa main bola voli di lapangan pasir. Mereka bikin keramaian dan keseruan sendiri. 

Malam kedua di Tinabo gue lewati bersama orang-orang kapal Pak Haji Anwar. Gue ikut makan di sana bareng Fiersa, makan malam menu sederhana dengan orang-orang yang bahagia, yang lebih pandai bersyukur daripada gue. Di kapal dengan lampunya yang redup tapi ditambah bintang-bintang di atas kapal. Ini kebahagiaan gue yang lain. Dan kesejahteraan untuk pejalan macam gue. Terkadang untuk makan, kita ditawarin juga sama Kang Mirwan, istrinya suka sengaja masak lebih buat kita bertiga, ah..kan jadi gimana gitu yah.. jadi (ga) enak... Baik banget lah pokoknya pasutri ini. Mungkin Kang Mirwan ini terharu liat gembel-gembel terlantar kaya kita bertiga makanya suka ditawarin makan. Haha.

Bicara Tinabo, sayang kalau lu cuma menikmati pantainya doang, sayang banget dilewatkan kalo kamu cuma pengen ngejar pertunjukan matahari terbit dan terbenamnya aja. Ngomongin Takabonerate, kamu! harus! nyemplung! Indonesia sebagian besar laut, men. Masa iya ga nyemplung?

Waktu gue menjadi peserta gelap di tripnya Intan, tiap acaranya mau diving/snorkling, gue ngikut lah ya. Nah, ada beberapa spot nyelem yang biasa dibawa sama guidenya. Tinanja sama Ibel adalah dua dari sekian spot nyelam di Takabonerate. 



Finding Nemo : Case Closed at Tinanja !
Thank God I'm Diver
Ini cuma sebagian kecil dari apa yang bisa gue share, selebihnya elu harus datang sendiri deh sumpeh... 
Make your own journey, create your own story, be history... ;)


Kibar Sang Saka dalam Perairan Takabonerate
Salam syempak ! (Jangan ditiru yah, mentemen)
Thank God I'm Freediver
Malam terakhir di Pulau Tinabo. Gue lagi-lagi mendapatkan malam yang epic banget!! 
Gue, Fiersa, Baduy, dan kawan-kawan baru gue unggun bersama di pantai barat pulau Tinabo, cukup jauh dari penginapan, yang nyala cuma kayu-kayu bakar yang kita bakar jadi unggun. Malam itu harusnya gelap banget karena penerangan ga sebanyak biasanya. Tapi, selalu ada pertunjukan alam. Dari kejauhan, beberapa pulau sebrang Tinabo memantulkan cahaya pasirnya hingga terlihat seperti ada pesta di sana. Dan yang pasti.. bintang-bintang di langit. Distorsi cahaya yang minim banget bikin semua penghuni langit malam keliatan! Ga sedikit bintang-bintang yang menaburkan cahayanya ke bumi bahkan galaksi pun ga malu untuk bersolek.

Thanks for epic nite, Tinabo!
Trims so much!
"Selamat datang kembali, manusia...."

Postingan terkait:

Belum ada tanggapan untuk "Terselatan di Sulawesi Selatan (Bagian 2) - Karang Di Atas Pasir"