Paling Utara dari Nusantara (Bagian 1) - Terima Kasih, Porodisa.

Cahaya di Melonguane
Lama tak bersua dengan tulisan, akhirnya saya kembali ke dunia maya. Ingin sekali saya berbagi perjalanan saya yang satu ini. Meski sudah setahun lebih lamanya, namun saya rasa yang namanya cerita tak pernah ada basinya. 

Perjalanan Sang Saka di tanah Sulawesi ini selalu membuat saya dan dua teman jalan saya takjub luar biasa. Pulau cukup besar yang kanan kirinya tercecer pulau-pulau kecil ini selalu membuat saya ingin mendalami dan diam lebih lama di situ.

Ada sebuah pulau menarik yang sangat menggelitik jiwa petualang kami. Pulau ini termasuk ke dalam Kabupaten Kepulauan Talaud, kabupaten paling utara Indonesia, yang berarti ada sebuah sudut yang otomatis menjadi bagian paling utara negeri ini. 

Pulau Miangas. Siapa yang tidak tahu Miangas? Saya yakin dari 200 juta lebih penduduk Indonesia pasti ada saja yang belum tahu dengan pulau yang satu ini. Wajarlah, negeri kita yang terdiri dari tujuh belas ribu pulau tidak mungkin kita hapal semua namanya. Setidaknya, perlu kita ketahui bahwa Miangas adalah garis paling depan dari Nusantara yang menjadi pulau paling utara Indonesia.

Menuju garis terdepan, halaman paling utara. Yang kecil, yang berani.

Hari 86 - Senin, 8 Juli 2013
Setelah beberapa hari di Manado, saya dan dua teman jalan saya akhirnya memutuskan untuk berangkat ke Miangas setelah mengetahui bahwa ternyata ada jadwal kapal ferry menuju Melonguane (ibukota Kab. Kep. Talaud) yang bisa kita kejar. Karena saat itu, jadwal kapal ferry tidak setiap hari dan kami belum mencari dan belum bisa membayangkan akses selanjutnya menuju Miangas, maka kami bertiga mengejar kapal ferry di Pelabuhan Bitung yang akan membawa kami ke Melonguane.

Suasana keberangkatan kami bertiga dari Manado menuju Bitung cukup rusuh. Sehari sebelum pergi menuju Talaud, kami bertiga menginap di sekretariat Mapala Teknik Pahyagaan Universitas Sam Ratulangi, sedangkan barang-barang kami sebagian masih di rumah Grace, teman kami waktu bertemu di Takabonerate tempo hari. Kami bertiga membagi tugas. Saya dan Fiersa mengambil barang-barang di rumah Grace dan Baduy pergi belanja untuk kebutuhan makan kita bertiga di perjalanan menuju Miangas. 

Dari dua tempat yang berbeda, Saya dan Fiersa sehabis mengambil barang dari rumah Grace segera menuju Terminal Paal 2, terminal dimana angkutan bus menuju Bitung berhulu dari situ. Sedangkan Baduy, sehabis belanja pun langsung menuju kemari. Kami mengejar keberangkatan kapal ferry yang dijadwalkan berlayar jam 14.00 WITA. 

Pukul 12.30 WITA, kami sampai di Terminal Paal 2 dan Baduy langsung mencari bus yang menuju Bitung. Ternyata tidak ada kendaraan yang direct tiba di Pelabuhan Bitung. Alhasil, kami harus naik bus yang berakhir di terminal Tangkoko Bitung, terminal terakhir sebelum menuju Pelabuhan Bitung kemudian dilanjutkan dengan ojeg sekitar 30 menit. Total waktu dari Terminal Paal 2 menuju Pelabuhan Bitung adalah 1,5 jam. Dan saat itu, kamipun hanya berharap semoga keberangkatan kapal ferry agak terlambat dan kami tidak ketinggalan, karena kalau ketinggalan kami harus menunggu kapal ferry tiba kembali di Bitung sekitar dua sampai tiga hari.

Manado - Bitung
Pukul 14.00 lebih sedikit, kami sampai di Pelabuhan Bitung. Dan..... Fiuh! Ternyata kapal ferry menuju Talaud masih sepi penumpang! Setelah kami bertanya pada awak kapal di sana, ternyata keberangkatan kapal ferry masih beberapa jam lagi. Hiya... Ya sudahlah yah, daripada ketinggalan, lebih baik datang lebih cepat.


Kapal ferry masih lama berlayar, seperti biasa kami bertiga biasanya berkeliling dek kapal sambil mencari tempat duduk. kebetulan saat itu masih sepi penumpang, kami mencari tempat duduk yang enak ditempati dan bisa sambil mengawasi barang bawaan kami. Dek paling atas menjadi tempat duduk kami, dekat dengan pintu keluar menuju dek luar.

Waktu sudah masuk sore tapi kapal ferry belum juga siap berlayar. Penumpang memang masih sepi, dan belum banyak kendaraan yang masuk. Sambil menghabiskan waktu, terkadang saya kembali berkeliling kapal. Melihat-lihat seisi kapal dan kebiasaan saya ketika naik kapal adalah mencari letak dapur, kantin, ruang ABK, ruang kemudi, atau sudut-sudut yang enak untuk jadi tempat nongkrong selama pelayaran.

Selama berkeliling, tak ada ABK yang terlihat, maksud ingin mengajak bicara, tapi tak muncul seorangpun. Mungkin masih ada yang beristirahat, mengecek isi kapal, atau membuat laporan pelayaran sebelumnya.

Cukup lama saya berkeliling kapal, tapi saya belum menemukan ruang dapur dan ruang kontrol yang biasanya di kapal ferry lain mudah ditemukan. Melihat denah kapal dengan teliti, tapi masih agak bingung dimana letak ruang-ruang itu, agak aneh. Dan akhirnya saya pun tidur-tiduran di kursi sambil sesekali ngobrol kecil dengan Fiersa yang sedang asik menulis di handphone-nya dan Baduy yang lebih sering terlihat melamun. Mungkin dia lagi mikirin jodoh :))

Tiga ransel besar berisi penuh yang disandar ke tembok kapal sesekali mengundang pertanyaan beberapa penumpang yang diam di kapal. "Mau kemana?", "Darimana?", dan "Mau ngapain?" adalah pertanyaan yang sudah sering menyerang kami bertiga, terutama Fiersa yang selalu lebih banyak diam di tempat duduk dan membaca buku yang dibawanya.

Waktu sudah malam, sudah pukul 19.00 WITA, KMP Porodisa belum juga berangkat. Penumpang makin banyak, membangunkan saya yang sedang berbaring-baring di kursi orang. Tampak dari dalam kapal, dermaga penuh dengan kendaraan roda empat dan truk-truk besar yang sedang mengantri panjang untuk parkir di dek kapal paling bawah. Dan, baru mulai pukul 21.00 WITA, KMP Porodisa menggerakan mesinnya, mengantarkan perjalanan kami bertiga menuju lebih utara.
Bitung - Melonguane
Malam hari di kapal ferry saya habiskan untuk beristirahat, beberapa kursi penumpang ada yang kosong dan bisa dimanfaatkan sebagai kasur untuk tidur. Karena ngantuk, saya ketiduran. Tapi sesekali terbangun karena suara berisik penumpang lain yang masih terjaga.

Hari 87 - Selasa, 9 Juli 2013
Dini hari pukul 02.00 WITA, saya terbangun oleh keriuhan penumpang yang agak berlalu lalang di dalam kapal. Penumpang sebagian bangun dan pergi ke dek luar. Ketika bangun saya merasa kapal agak bergoyang lebih kencang. Karena penasaran, saya tanya kepada seorang penumpang. Ternyata mesin kapal rusak dan mati! Dan kapal terombang ambing di tengah laut yang saya sendiri ga tahu dimana posisi kapal. Cuma saat itu, karena kalah sama ngantuk, saya tidak terlalu terkejut. Saya lebih memilih kembali tidur dan mempercayakan kondisi kapal kepada awaknya, juga berdoa mudah-mudahan mesinnya segera hidup lagi. Toh, kalaupun ada apa-apa, pasti ada pengumuman. Akhirnya saya tidur lagi. Paginya, waktu saya bangun saya sempet dikasih tahu sama seorang penumpang bahwa semalam itu mesin kapal sempat mati sampai tiga jam.

Malam pertama di KMP Porodisa disponsori oleh tunduh (Bahasa Sunda : ngantuk). Karena bosan diam melulu, saya kembali mengelilingi dek kapal. Sambil mengambil pop mie yang dibekali Grace, saya turun ke dek tengah, dek yang termasuk ruang nonton TV dan kantin. Bermaksud membeli air panas untuk mie, saya menuju kantin. Tadinya ingin minta air panas ke dapur kapal, tapi karena belum ketemu, jadi beli air panasnya aja ke kantin. Sambil menyantap sarapan, saya mengambil posisi untuk menonton TV. Fiersa dan Baduy? Masih tenang di alam mimpinya.

Di kursi baris sebrang terlihat beberapa lelaki sedang asik berbincang seru. Nampak seorang pria bertubuh besar penuh tatto, tinggi, rambut gondrong, berkulit gelap mengkilat, memakai anting, dan memakai topi terbalik. Di sampingnya duduk seorang cukup beruban dengan pakaian kemeja cokelat muda membungkus tubuhnya yang kurus. Dan ada lagi beberapa pria yang ikut ngobrol dengannya.

Perawakan Si Gondrong yang menonjol itu mengundang lirik kecil saya padanya. Dan lirikan itu disadari olehnya dan membalas dengan sapaan. 

"Hey, kamu..." saya yang sedang melahap pop mie kembali melirik si Abang Gondrong.
"Ya, bang?" saya menjawab dengan mulut mengunyah/
"Mau kemana?"tanya si Abang Gondrong.
"Miangas, Bang."
"Ha, ngapain kesana?"
"Dokumentasi negeri gitu, Bang..."

Si Abang Gondrong mulai bertanya nama pada saya. Begitupun saya. Si Abang Gondrong itu bernama Bang Rizky, dia supir truk yang lagi antar barang ke Melonguane. Teman-temannya yang bicara sama dia juga ternyata supir truk yang semuanya lagi antar barang kesana. 

"Kamu darimana?"
"Dari Bandung, Bang.. Sunda...Sunda..."
"Bandung? Sunda? Tuh, Kang Denny orang Sunda."
"Siapa itu Kang Denny?"
"Itu dia yang kerja di sini (KMP Porodisa)."
"Oh, iya?"

Ketika sedang ngobrol sama Bang Rizky dan teman-teman sesama supirnya, datanglah seorang pria tua menghampiri Bang Rizky. Kebetulan itu dia yang namanya Kang Denny.

"Nih, orangnya Kang Denny." Bang Rizky memperkenalkan saya dengannya. Saya tersenyum. Bang Rizky memberitahu bahwa saya juga orang Sunda.
"Sunda? Timana (darimana) kamu?"Kang Denny bertanya.
"Bandung, Kang.. Gedebage kalau rumah mah..."
"Nanti main-main atuh ke dapur di atas..." ajaknya sembari senyum.

Oh, dapurnya di atas! Ternyata dapurnya di atas! Satu dek sama tempat saya duduk! Dapurnya ga ketahuan karena untuk masuk ke dapur, harus lewat ruangan yang cuma ABK aja yang lewat. Haha, suka deh kalau udah diajak ke dapur. Hihi. 

"Iya, Kang. Nuhun (terima kasih). Nanti main-main ke dapur. Hehe... Siap..." saya mengiyakan ajakannya sambil nyengir-nyengir sumringah. Yeah...! Dapur... Udah paling bahagia kalau di dalam kapal itu nemu dapur! Karena dapur adalah ruang pertahanan buat musafir macam kita bertiga.

Siang hari jam makan, saya main ke dapur kapal. Saya membuka pintu ruangan ABK yang menyambung ke dapur kapal. Ruangan itu ternyata dipakai juga untuk ruang nonton TV oleh awak KMP Porodisa. Nampak beberapa awak sedang nonton televisi dengan santai. Ini ruangan bikin betah, soalnya ada AC nya juga. Hehe.

"Mas, maaf, saya mau ke Kang Denny." kata saya sedikit mengganggu seorang awak yang sedang asik nonton.
"Kang Denny? Ada di dapur. Ke dapur lewat sini."kata ABK itu sambil menunjukan pintu ke dapur dari ruangan televisi ABK. Saya segera menuju pintu yang ditunjuk dan memang ternyata dapurnya ngumpet banget dari lalu lalang penumpang.

Ini dia dapurnya! Kata saya dalam hati. Nampak Kang Denny sedang memasak di dapur

Kang Denny adalah koki di KMP Porodisa. Dan dia adalah asli orang Leuwi Gajah, Cimahi. Baru satu tahun kerja di KMP Porodisa. Sebelumnya beliau bekerja di kapal dengan rute-rute di Papua.

Saya sekalian ikut makan siang di dapur kapal. Ngobrol-ngobrol sedikit dengan Kang Denny. Setelah saya makan, saya ajak Baduy dan Fiersa untuk makan siang di dapur kapal dan diperkenalkan ke Kang Denny.

Setelah tahu letak dapurnya, saya jadi lebih sering diam di dapur atau menonton televisi di ruang ABK yang ternyata ruangan itu adalah kelas bisnis dan eksekutif, namun beralih fungsi menjadi ruang ABK beristirahat. Entah mungkin saat itu sedang tidak ada yang membeli tiket selain ekonomi. Saya juga lebih banyak berkenalan dengan ABK yang lain yang memang kebanyakan berasal dari Jawa atau Sunda. 

Menjelang sore, Kang Denny minta tolong saya untuk memasak mie instan dan nasi. Katanya ini untuk dibagikan ke penumpang karena semalam kemarin kapal sempat mati mesin selama tiga jam dan menyebabkan waktu tiba di Melonguane pun terlambat. "Ini mah kita ngasih aja ke penumpang, Neng. Kan mereka jadi terlambat sampe gara-gara mesin kapalnya mati tadi malem." katanya. Saya, tanpa berpikir dua kali, langsung ikut membantu Kang Denny di dapur. Fiersa dan Baduy kembali ke kursi, bergantian menjaga barang-barang kami. 

Saat itu saya sangat senang. Bukan karena saya telah menemukan dapur kapal, tapi karena saya ikut membantu Kang Denny memenuhi permintaan tolongnya. Sebenarnya penumpang tidak berkeluh kesah karena mesin kapal yang mati dan menyebabkan keterlambatan. Tapi Kang Denny mewakili pihak KMP Porodisa ingin menyampaikan permintaan maaf dengan membagikan makanan gratis, meski hanya mie instan dan nasi, tapi itu saja sudah membuat penumpang satu kapal jadi senang.

Malam pun tiba, langit malam pukul 19.00 WITA mengantarkan pelayaran KMP Porodisa yang sedikit lagi tiba. 
"Bentar lagi nyampe, Neng... Dua jam lagi kira-kira.." kata Kang Denny.
"Oia, Kang. Berarti jam 9-an ya?" tanya saya.
"Iya.. sekitar.."
"Kang, kalau saya bertiga boleh ikut tidur dulu di kapal ga, Kang? Pagi baru turun, itu juga saya mau cari info dulu buat kapal ke Miangas."

Jam 21.00 WITA, KMP Porodisa bersandar di dermaga ferry Melonguane. Akhirnya kami tiba. Dan kami masih tak menyangka, meski masih jauh dari Miangas, ini sudah termasuk yang terluar. Menuju pagi masih cukup lama. Kang Denny mengizinkan kami bertiga untuk ikut tidur di kapal sampai pagi tiba. Kehidupan kami di kapal, masih ada beberapa jam lagi.

Hari 88 -  Rabu, 10 Juli 2013
Ini hari pertama shaum Ramadhan di tahun ini. Kami bertiga menjalani sahur pertama di KMP Porodiso bersama Kang Denny dan awak kapal. Dan ini kali pertama untuk kami bertiga mengalami Ramadhan hari pertama di sini.

Pagi hari pukul 08.00 WITA, kami bertiga turun dari kapal. Ah, bagaimana saya harus membalas kebaikan dari Kang Denny dan semua awak kapalnya yang sudah mau mengizinkan kami yang seenaknya ini?

"Kang, nuhun pisan nyak (terima kasih banget)..!"ucap saya pada Kang Denny.
"Iya, sama-sama, Neng. Hati-hati ya jalan ke Miangas."
"Enya (iya), Kang.. Sampe ketemu lagi, ya...Nuhun pisan..."

Kami bertiga berpamitan dengan Kang Denny dan ABK yang ada saat itu. Ah, balas kebaikan mereka, tuhan...
Kami bertiga kembali mengangkat ransel, turun dari dek, menjauhi KMP Porodisa. Kapal itu semakin kecil dari pandangan kami, dan sudah cukup banyak penumpang sibuk menaikkan barang-barang bawaan untuk melanjutkan pelayaran KMP Porodisa kembali ke Pelabuhan Bitung. 

Kami berjalan kaki ke arah pelabuhan umum sekitar 15 menit dari pelabuhan ferry. Di sana kami mencari informasi lagi mengenai kapal ke Miangas. Di situ sebuah kapal bersandar. KM Meliku Nusa, sebuah kapal barang yang dijadikan kapal penumpang. Ah, mungkin itu kapal kita selanjutnya! Tapi fiuh.. ternyata kapal itu sedang bukan rutenya ke Miangas.

KM Meliku Nusa adalah satu-satunya kapal perintis yang membawa penumpang ke Miangas, tapi saat itu KM Meliku Nusa bertolak menuju Tahuna, sebelah barat daya Melonguane. Dan kami harus menunggu hampir seminggu, menanti Meliku Nusa datang kembali.

Perjuangan belum selesai!
Bersambung...

Postingan terkait:

2 Tanggapan untuk "Paling Utara dari Nusantara (Bagian 1) - Terima Kasih, Porodisa."

Fazri Kawai mengatakan...

Di antosan ka corat coret selanjutnya :)

Anisa @PREMOUS Andini mengatakan...

Inshaa Alloh... Hehehehe.. Ditunggu yaaa... he he he