Paling Utara dari Nusantara (Bagian 2) - Melonguane (Pertemuan Sangat Singkat)

Cerita sebelumnya .... Terima Kasih, Porodisa


Hari 88 - Rabu, 10 Juli 2013
Ini kali pertama saya dan dua sobat saya menginjakan kaki di Melonguane setelah semalam ikut menginap di KMP Porodisa dengan sejumlah awak kapalnya yang baik hati. Dan ini adalah hari pertama bulan Ramadhan. Entah apa dengan cuaca yang panasnya sangat ini kita bertiga bisa tamat puasa. 

Di pelabuhan umum Melonguane kami bertiga menunggu. Memang di situ ada KM Meliku Nusa, satu-satunya kapal yang mau ngangkut penumpang ke Miangas, meski sebenarnya itu kapal barang, tapi cuma dia yang berani nyebrang sampai ke ujung Indonesia itu. 
KM Meliku Nusa yang bersandar di pelabuhan umum Melonguane
Kita memilih menunggu di terminal tempat penumpang menunggu kapal. Barang kita pun disimpan di situ. Karena gerah dan panas yang melanda, kita duduk-duduk di lantai keramik terminal, terkadang berbaring, pokoknya apapun dilakukan agar kita tak merasa kepanasan.

Suasana terminal saat itu tak terlalu ricuh, penumpang masih cukup tertib dan belum membludak. Mungkin karena hari biasa, kalau hari-hari libur mungkin padat. Lalu lalang penumpang sesekali meramaikan waktu menunggu kami. Ada saja dua atau lebih penumpang yang bertanya pada kami karena tiga ransel kami yang besar bersandar di tembok memang menjadi perhatian.

Datanglah lima orang anak muda yang menunggu juga di terminal penumpang kapal. Usia mereka kisaran remaja belasan tahun. Duduk dekat kita bertiga. Ada Marcus, si anak pulau Talaud berkulit putih, berwajah khas Manado, dan dia nampak memimpin rombongannya, Ada juga lelaki kocak, Eli si perantau dari Flores, dan tiga orang teman lainnya nampak cukup sibuk juga dengan barang bawaan mereka. 

Eli, si remaja lucu pemilik wajah khas timur Indonesia ini, sambil menggelitik gitar yang dibawanya mulai membuka pertanyaan "Kemana?", dan berlanjutlah obrolan cukup panjang di antara para penumpang yang sedang menunggu kapal. Ternyata mereka berlima hendak menuju Tahuna dengan Meliku Nusa, sehabis pelayanan dan praktik sekolah kependetaannya di Melonguane.

Di tengah perbincangan, nampak Marcus mengeluarkan sebuah buku dari tasnya.
"Wih, rajin baca buku nih.. "kata saya sedikit basa-basi.
"Iya, Kak. Ini buku bagus kalau saya bilang..."
"Oh, gitu..." saya mengambil dan melihat sekilas isi bukunya.
"Ini buku tentang tenteram dan sukses. Di sini dibilang bahwa tenteram dan sukses itu berbeda. Kadang ada orang sukses, kaya raya, harta berlimpah, tapi hidupnya ga tenteram. Dan sebaliknya, ada orang yang biasa aja, sederhana, berkecukupan, tapi bisa hidup tenteram. Nah, makanya saya baca...."

Kalimat Marcus cukup membuat saya agak diam. Saya sedang berhadapan dengan seorang anak muda yang sedang belajar bersyukur. Atau mungkin dia sudah jauh lebih bisa bersyukur daripada saya. Hebat. Di kala anak muda lain di kota metropolitan masih memohon-mohon dibelikan gadget atau mobil mewah, atau sedang berfoya-foya dengan uang orang tuanya, di sini, di pulau ini, anak itu sedikit mencubit pikiran saya tentang kehidupan dan rasa syukur.

Hei, anak muda dimana pun berada. Jauh dari tempatmu sekarang, seorang anak sebayamu sedang berjuang memenuhi keinginannya dengan keringat sendiri.

Peluit kapal Meliku Nusa sudah berbunyi ketiga kalinya, sebentar lagi akan berangkat. Otomatis pula menghentikan obrolan kami dengan kelima anak itu. Menutup perbincangan, Marcus memberikan bukunya itu.

"Ini untuk Kaka." kata Marcus sambil menyodorkan buku itu.
"Loh, bukannya lagi dibaca?"tanya saya.
"Ga apa-apa, Kak. Semoga bermanfaat ya..."

Apa muka saya terlihat ga tentram dan suram yah makanya dikasih buku itu? Hehe. Trims, Marcus dan kawan-kawan. Sampai bertemu kembali. Jadilah orang hebat dan membanggakan orang di sekitarmu.

Mereka naik ke kapal, semakin mengecil dalam pandangan. Saya yang duduk di terminal masih dengan buku yang Marcus beri. Selalu begini perasaannya, setiap melepas orang yang baru ditemui, selalu ada perasaan yang tertinggal. Padahal hanya sebentar saja pertemuan itu. 

Mereka yang mengisi cerita petualangan ini, apakah kita akan bertemu lagi?

Bersambung.....

Perjalanan Masih Panjang, Kawan!

Postingan terkait:

Belum ada tanggapan untuk "Paling Utara dari Nusantara (Bagian 2) - Melonguane (Pertemuan Sangat Singkat)"